BOGOR, POSKOTA.CO.ID - Suasana sore di tanah lapang Jalan Haji Nawi, Ciseeng, Kabupaten Bogor, terasa berbeda selama Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Festival yang berlokasi tak jauh dari perempatan Ciseeng itu menjadi magnet warga untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa, Minggu, 1 Maret 2026. Pengunjung datang bersama keluarga, pasangan, maupun teman untuk menikmati suasana pasar malam yang meriah dan tetap ramah di kantong.
Festival ini menawarkan pengalaman ngabuburit yang sederhana tapi lengkap. Hanya dengan membayar parkir kendaraan Rp3.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk kendaraan roda empat, pengunjung sudah bisa masuk ke area festival tanpa tiket tambahan.
Di dalamnya, deretan tenda kuliner berjajar rapi, menyajikan aneka takjil seperti kolak, es buah, gorengan, hingga makanan berat, seperti sate, nasi goreng, nasi ayam, dan soto tangkar khas Surabaya.
Baca Juga: Frustasi Lamaran Kerja Ditolak, Pria di Bogor Tewas Tabrakan Diri ke KRL
"Kuliner cukup lengkap, bisa sekalian buka puasa di sini. Senang pastinya, ngabuburit enggak jauh dari rumah tapi komplit," kata Sukmara, seorang pengunjung yang datang bersama suami dan anaknya, Minggu, 1 Maret 2026.
Tak hanya soal makanan, festival ini juga menghadirkan lapak pakaian dengan harga terjangkau, mulai gamis, koko, hijab, hingga sandal dan aksesori dijual dengan harga yang bersahabat. Banyak pengunjung memanfaatkan momen ini untuk sekalian berburu kebutuhan Lebaran tanpa harus berdesakan di pusat perbelanjaan.
Sementara itu, tawa anak-anak terdengar bersahutan menikmati wahana permainan khas pasar malam menjadi daya tarik tersendiri. Orang tua mereka terlihat mengawasi sambil duduk santai menunggu waktu berbuka.
Wahana yang tersedia, di antaranya bianglala, kora-kora, komidi putar, ombak banyu, tong setan, dan rumah hantu. Harga tiket yang ditawarkan untuk menikmati wahana permainan pun cukup terjangkau.

Salah sebuah wahana yang paling mencuri perhatian adalah rumah hantu dengan tarif hanya Rp10 ribu sekali masuk. Bangunan sederhana yang dihias kain gelap dan ornamen menyeramkan itu tak pernah sepi antrean, karena remaja hingga orang dewasa terlihat menguji keberanian mereka sebelum azan Magrib berkumandang.
“Menurut saya tempat ini cocok untuk menunggu buka, bisa cari makanan terus anak-anak juga tetap bisa main," ucapnya.
Di sisi lain, Endang, salah seorang pedagang minuman segar, merasakan berkah tersendiri dari ramainya festival. Menurutnya pengunjung selalu meningkat menjelang waktu berbuka dan biasanya dagangannya habis sebelum pukul 21.00 WIB.
Ia berharap acara serupa bisa terus digelar setiap tahun karena sangat membantu pelaku usaha kecil sepertinya.
"Alhamdulillah udah seminggu puasa ramai terus, apalagi kalau malam Minggu, habis Maghrib juga sudah dagangan saya," tuturnya.
Menjelang petang, suasana semakin hangat dan akrab. Pengunjung duduk beralaskan tikar atau kursi lipat yang tersedia, menyantap makanan yang baru dibeli sambil berbincang santai.
Lampu-lampu mulai dinyalakan, memancarkan cahaya temaram khas pasar malam. Festival Ramadhan Bogor bukan sekadar tempat berburu takjil, tetapi juga ruang berkumpul yang sederhana, meriah, dan menghadirkan kebersamaan di bulan suci.