POSKOTA.CO.ID - Ketegangan internasional kembali meningkat setelah pemerintah Iran mengumumkan penutupan total jalur pelayaran di Selat Hormuz pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Langkah ini dilakukan di tengah eskalasi konflik menyusul serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap beberapa target strategis di wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran.
Mengutip laporan kantor berita Antara, Brigadir Jenderal Ibrahim Jabari dari pasukan IRGC menegaskan bahwa penutupan jalur vital tersebut merupakan langkah resmi dan terukur.
“Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” ujar Jabari.
Sementara itu, Iran merespons serangan tersebut dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel serta menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Kondisi keamanan yang memburuk juga membuat Kementerian Pendidikan Iran menutup sekolah dan mengalihkan pembelajaran menjadi daring, menurut laporan kantor berita ISNA.
Baca Juga: Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei Picu Deklarasi 40 Hari Masa Berkabung di Iran
Lokasi Strategis Selat Hormuz
Secara geografis, Selat Hormuz terletak di antara pesisir Iran dan eksklave Musandam milik Oman. Jalur ini juga berdekatan dengan wilayah pesisir Uni Emirat Arab.
Perairan tersebut menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, menjadikannya pintu keluar utama minyak dari kawasan Teluk.
Selat ini memiliki lebar sekitar 50 kilometer, dan pada titik tersempit berada pada kisaran 33–54 kilometer. Kedalamannya relatif dangkal, kurang dari 60 meter, sehingga secara militer sangat rentan dan mudah diawasi negara-negara di sekitarnya.
Siapa Pemilik Selat Hormuz?
Pertanyaan mengenai “Selat Hormuz milik siapa?” kembali mengemuka setiap kali konflik terjadi di kawasan tersebut. Berdasarkan hukum laut internasional, setiap negara memiliki kedaulatan hingga 12 mil laut (sekitar 22 kilometer) dari garis pantai. Karena itu, sebagian besar jalur pelayaran di titik tersempit selat berada dalam wilayah teritorial Iran dan Oman.
Dengan demikian:
Iran dan Oman memiliki kendali langsung atas sebagian besar perairan selat, sesuai batas kedaulatan laut.
Uni Emirat Arab juga menjadi negara pesisir yang mengelilingi kawasan strategis tersebut.
Namun secara fakta, Selat Hormuz merupakan jalur internasional yang digunakan untuk kepentingan global, terutama perdagangan energi. Karena itu, meskipun berada di wilayah dua negara, fungsinya tidak bisa dipisahkan dari ekonomi dunia.
Mengapa Selat Hormuz Ditutup?
Penutupan selat kali ini dipicu oleh eskalasi militer antara Iran dan dua negara sekutunya, yakni Amerika Serikat dan Israel. IRGC menyebut langkah ini sebagai bentuk respons atas tindakan agresif terhadap kedaulatan Iran.
Seorang perwakilan IRGC menyatakan bahwa Israel telah melakukan “salah perhitungan besar” dengan menyerang Iran. Penutupan Selat Hormuz dipandang sebagai langkah strategis untuk menekan negara-negara yang terlibat dalam konflik, sekaligus menunjukkan kemampuan Iran dalam mengendalikan jalur vital tersebut.
Namun langkah ini juga mengandung risiko besar bagi perekonomian global, mengingat posisi Selat Hormuz sebagai salah satu jalur energi terpenting di dunia.
Kepentingan Global terhadap Selat Hormuz
Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menyebut Selat Hormuz sebagai “titik penyempitan transit minyak paling vital di dunia.” Setidaknya 18–20 juta barel minyak melewati jalur ini setiap hari, atau sekitar 20 persen dari konsumsi minyak global.
Sebanyak 15 kapal tanker mengangkut 16,5 hingga 17 juta barel minyak setiap hari melalui selat ini. Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka lewat jalur ini.
Selain itu, Qatar salah satu eksportir gas alam cair (LNG) terbesar dunia mengirim hampir seluruh produknya melalui jalur yang sama.
Jika penutupan berlangsung lama, harga minyak dunia berpotensi melonjak drastis, dan negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan akan merasakan dampaknya secara signifikan.
Baca Juga: Profil Ayatollah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Jadi Sasaran Operasi AS
Bagaimana Iran Menguasai Selat Hormuz?
Iran memiliki garis pantai panjang di sisi utara Selat Hormuz dan mengendalikan sejumlah pulau strategis seperti Pulau Hormuz, Qeshm, dan Larak. Jalur pelayaran internasional pun berada dalam batas teritorial Iran dan Oman, sehingga memberikan pengaruh besar terhadap lalu lintas kapal.
Meski Iran akan ikut terdampak secara ekonomi jika selat ditutup, negara tersebut telah lama mengalokasikan sumber daya militer untuk memastikan kemampuan mengendalikan atau bahkan menutup jalur tersebut bila dianggap perlu.
Penutupan ini dipastikan memicu gejolak pasar energi dan menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah. Negara-negara importir minyak kemungkinan mencari jalur alternatif, meskipun kapasitas luar Selat Hormuz masih sangat terbatas.
Dengan memahami latar belakang geopolitik, hukum laut, dan posisinya dalam perekonomian global, dapat disimpulkan bahwa persoalan “Selat Hormuz milik siapa?” jauh lebih kompleks daripada sekadar klaim kepemilikan. Jalur ini berada dalam wilayah Iran dan Oman, namun penggunaannya menyangkut stabilitas ekonomi global.