POSKOTA.CO.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas Iran.
Pemerintah bahkan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok yang memegang kekuasaan tertinggi di negara tersebut.
Kabar ini tidak hanya mengguncang masyarakat Iran, tetapi juga memicu perhatian dunia internasional. Pasalnya, posisi Pemimpin Tertinggi di Iran bukan sekadar simbol politik, melainkan pusat kendali ideologi, militer, hingga arah kebijakan luar negeri.
Pertanyaan besar pun muncul: apa yang terjadi jika Ali Khamenei wafat? apakah Iran akan runtuh setelah kehilangan pemimpin tertingginya? atau justru dunia yang menghadapi dampak paling besar?
Baca Juga: Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting? Ini Pengaruhnya bagi Pasar Energi Dunia dan Asia
Sistem Negara Iran Dirancang Tidak Bergantung pada Satu Tokoh
Sejak berdirinya Republik Islam Iran pada 1979, sistem pemerintahan dirancang agar tetap stabil meski figur utama hilang. Konsep tersebut diwariskan oleh pendiri revolusi Iran, Ruhollah Khomeini, yang menekankan bahwa institusi negara harus lebih kuat daripada individu.
Prinsip ini menjadi fondasi utama bertahannya Iran selama puluhan tahun menghadapi tekanan internasional, konflik regional, hingga pergantian elite politik.
Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa Iran memiliki mekanisme pengganti kepemimpinan yang cepat. Ketika sejumlah pejabat militer senior tewas dalam berbagai operasi keamanan beberapa tahun terakhir, struktur komando tetap berjalan tanpa gangguan besar.
Hal tersebut menandakan bahwa stabilitas negara tidak sepenuhnya bergantung pada satu sosok pemimpin.
IRGC Jadi Kunci Stabilitas Militer Iran
Kekuatan utama Iran berada pada Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Institusi militer ini sejak awal 2000-an membangun sistem komando berlapis dengan unit-unit regional yang memiliki otonomi operasional.
Dalam struktur tersebut, sebagian kewenangan strategis termasuk respons militer dan peluncuran rudal disebut telah didelegasikan hingga level perwira menengah.
Artinya, wafatnya pemimpin tertinggi tidak otomatis menghentikan aktivitas militer. Sistem ini membuat respons pertahanan Iran dapat tetap berjalan secara cepat bahkan dalam situasi krisis kepemimpinan.
Dampak Langsung Justru Terasa di Pasar Energi Dunia
Dampak paling cepat dari wafatnya pemimpin tertinggi Iran kemungkinan bukan terjadi di Teheran, melainkan di pasar global.
Ketidakpastian komando militer dapat membuat perusahaan energi menahan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, jalur laut yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari.
Gangguan di jalur strategis tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global, meningkatkan inflasi, dan memperbesar tekanan ekonomi di banyak negara.
Ketidakjelasan siapa yang memiliki otoritas penuh untuk menghentikan operasi militer juga meningkatkan risiko salah tafsir antarnegara, yang dapat mempercepat eskalasi konflik.
Baca Juga: Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei Picu Deklarasi 40 Hari Masa Berkabung di Iran
Dunia Menghadapi Risiko Lebih Besar dari Iran
Secara struktural, Iran kemungkinan besar tetap bertahan karena sistem negara telah dirancang menghadapi krisis kepemimpinan. Namun ancaman terbesar justru berada pada dampak global yang muncul selama masa transisi kekuasaan.
Dalam kondisi di mana operasi militer dapat berjalan lebih cepat daripada proses politik, dunia menghadapi periode ketidakpastian yang berpotensi mengguncang stabilitas energi, keamanan regional, hingga ekonomi internasional.
Dengan adanya kabar Ali Khamenei meninggal ini mungkin tidak langsung meruntuhkan Iran, tetapi konsekuensinya bisa terasa jauh melampaui batas negara tersebut.