Mahasiswa Kampus Al Azhar Dibunuh Adik Sendiri, Diduga Bermula dari Perceraian Orang Tua

Kamis 26 Feb 2026, 19:17 WIB
Nurul Arifah, ibu dari korban dan juga pelaku kasus pembunuhan kakak beradik di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis, 26 Februari 2026. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

Nurul Arifah, ibu dari korban dan juga pelaku kasus pembunuhan kakak beradik di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis, 26 Februari 2026. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

KELAPA GADING, POSKOTA.CO.ID - Nasib nahas dialami mahasiswa Ketua HIPMI Kampus Al Azhar, Muhammad Ammar Robbani, 22 tahun yang tewas dipukul pakai palu oleh adiknya sendiri di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Usai kejadian ini, sang Ibu, Nurul Arifah tak mampu menyembunyikan kesedihannya sembari menceritakan sosok korban yang disebut aktif dalam keorganisasian kampus.

"Aktif, aktif di organisasi, aktif di mana-mana, seperti itu yang saya tahu. Di Partai Golkar, gitu, seperti itu," kata Nurul Arifah yang sedang dalam pemeriksaan petugas kepolisian, Kamis, 26 Februari 2026.

Diketahui, Muhammad Ammar Robbani saat ini menjabat sebagai Ketua Umum HIPMI PT Universitas Al Azhar Periode 2025-2026.

Baca Juga: Kesaksian Warga soal Adik Bunuh Kakak di Kelapa Gading Jakut: Ibu Korban Histeris Minta Tolong

Nurul mengatakan, anaknya itu kini telah memasuki semester delapan dan sedang menjalani rangkaian proses skripsi sebagai tugas akhir kampus.

"Selesai (lulus kuliah) itu tahun ini," ungkapnya dengan raut wajah yang begitu sedih.

Menurut Nurul, pertengkaran korban dengan adiknya berinisial A, 15 tahun ini bermula karena permasalahan keluarga, yakni perceraian orang tua, dimana ayah korban sudah tidak pernah lagi memberikan nafkah ke anak.

"Dia (anak-anak) ada kekesalan dengan ayahnya dan segala macam. Jadi apa ya, anak-anak itu kan kesal dengan bapaknya, apalagi 7 bulan ini diblokir HP anak kandungnya itu," kata Nurul.

Baca Juga: 2 Begal Bersajam asal Jakarta Ditangkap Beraksi di Summarecon Bogor

"Bapaknya itu berselingkuh sudah 3 tahun, dan sekarang memilih menikahi siri dengan pelakor dan anak tirinya, memilih seperti itu. Anak kandungnya sendiri sudah 7 bulan ini diblokir," ungkapnya.

Hal inilah yang memicu perubahan sikap terhadap korban dan adiknya tersebut, khususnya terkait masalah perekonomian keluarga.

"Kalau kakaknya karena biayanya besar untuk kuliah-kuliah, nah uang-uang. Nah namanya kuliah kan. Nah seperti itu, dia (pelaku) merasa kasihan kepada ibunya 'kok uang-uang terus’,” ucap Nurul.

“Nah seperti itu aja kasusnya. Dan itupun seperti dilakukan tidak sadarlah, bukan, bukan anak saya lah. Seperti itu," katanya.

Baca Juga: Terdakwa Penggelapan Investasi Minta Dibebaskan, Sebut Tak Rugikan Korban

Nurul menyampaikan, kasus yang menimpa keluarganya tersebut menjadi cerminan bagi orang tua lainnya untuk tetap memberikan kasih sayang yang penuh untuk anak meski bercerai.

“Makanya saya mengedukasi kepada orang-orang yang bercerai atau bagaimana, anak ya tetaplah anak, ada mantan istri, mantan suami. Kita harus memberikan full kasih sayang kepada anak-anak kita. Co-parenting lah bahasanya seperti itu," ujar dia.

Sementara itu, saksi sekaligus tetangga korban, Rizky Tri Mulyanto, 25 tahun mengatakan, kejadian tragis itu diketahui setelah ibu korban berteriak meminta bantuan.

"Saya lagi di rumah, ibunya keluar teriak minta tolong. Pas saya lihat, anaknya sudah tergeletak dan darahnya sudah banyak," ujar Rizky kepada wartawan di lokasi.

Baca Juga: DPRD DKI Ingatkan Pemprov Jakarta Relokasi Warga Kampung Bilik Harus Perhatikan Aspek Kemanusiaan

Menurut Rizky, korban mengalami luka serius di bagian kepala setelah diduga dihantam menggunakan palu oleh pelaku. Setelah itu, korban sempat dievakuasi warga dalam kondisi tak sadarkan diri untuk mendapat pertolongan medis.

Selanjutnya korban dilarikan ke Rumah Sakit Gading Pluit, namun nahas nyawanya tidak bisa tertolong dan dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 18.00 WIB.

Adapun peristiwa tragis tersebut terjadi pada Selasa, 24 Februari 2026 lalu dan pelaku sempat diamankan warga sebelum akhirnya dibawa oleh pihak kepolisian. Ketika diamankan, pelaku disebut hanya pasrah dan tidak melakukan perlawanan.

Pihak kepolisian pun hingga kini masih mendalami motif penganiayaan ini dan meminta keterangan dari saksi-saksi untuk mengungkap kronologi lengkap kejadian tersebut. (pan)


Berita Terkait


News Update