CIMAHI, POSKOTA.CO.ID - Puluhan siswa dan satu guru di Kota Cimahi diduga mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu 25 Februari 2026.
Para korban mengeluh mual, pusing, muntah hingga demam setelah mengonsumsi paket MBG berisi onigiri, susu, apel, dan telur yang diproduksi dari SPPG Karangmekar 2.
Dapur MBG yang berlokasi di Jalan Babakan No 26, Cimahi Tengah, Kota Cimahi itu berada di bawah naungan Yayasan Manunggal Kartika Jaya. Dapur yang baru beroperasi 3 bulan tersebut kini harus dihentikan sementara untuk evaluasi.
Perihal kasus keracunan ini, Pemerintah Kota Cimahi telah memanggil pengelola SPPG terkait untuk dimintai klarifikasi dan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan.
Wakil Walikota Cimahi, Adhitia Yudhistira, menegaskan, pengawasan akan diperketat terlebih, pada bulan Ramadhan ketika jeda antara waktu produksi dan konsumsi berpotensi memengaruhi kualitas makanan.
Terkait kemungkinan penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB), Pemkot Cimahi masih menunggu hasil uji laboratorium serta evaluasi jumlah dan pola kasus. Pemerintah memastikan seluruh proses dilakukan secara transparan dan sesuai ketentuan.
"Diharapkan, seluruh SPPG di Kota Cimahi agar mematuhi kesepakatan yang telah ditetapkan antara Pemerintah Kota Cimahi dan Badan Gizi Nasional (BGN), serta melaksanakan seluruh prosedur sesuai standar demi menjamin keamanan pangan yang didistribusikan," kata Adhitia, Kamis 26 Februari 2026.
Ia menekankan bahwa, setiap penyedia wajib memenuhi standar baku mutu dan kelayakan bahan pangan yang digunakan, dengan proses pengolahan dan penyajian makanan dilaksanakan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
Baca Juga: Hariman Budi Anggoro Gaspol Majukan UMKM Purwakarta
“Standar baku mutu harus dipenuhi, mulai dari kualitas bahan, kelayakan konsumsi, hingga aspek keamanan pangan lainnya. Itu yang pertama, lalu untuk proses memasak, pengemasan, hingga distribusi harus mengikuti SOP," ungkapnya.
Pemerintah akan melakukan pengawasan dan meminta seluruh SPPG di Kota Cimahi benar-benar disiplin dalam pelaksanaannya.
Dalam situasi bulan Ramadan, perlu ada penyesuaian jenis makanan yang disalurkan. Mengingat tidak semua penerima manfaat langsung mengonsumsi makanan sebelum waktu berbuka, risiko penurunan kualitas pangan harus diantisipasi.
Koordinator Wilayah SPPG Kota Cimahi, Hanif Abdul Rafi, menyebut dapur tersebut baru beroperasi sejak November 2025 dan pada hari kejadian menyalurkan 2.662 paket MBG kepada penerima manfaat.
Baca Juga: Raihan Mufazzar Jurusan Apa dan Semester Berapa? Ini Identitas Pelaku Pembacokan Mahasiswi UIN Riau
Ia juga mengungkap adanya arahan dari Badan Gizi Nasional agar menu MBG, khususnya selama Ramadan, dibuat lebih tahan lama untuk distribusi.
"Insiden dugaan keracunan ini merupakan yang pertama di Cimahi. kami berjanji melakukan evaluasi menyeluruh mulai dari pengolahan hingga pengawasan, serta memperketat koordinasi dengan dinas terkait dan Forkopimda agar kejadian serupa tak terulang," ujar Hanif. (gat)