“Saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” tulis Dwi.
Ia menjelaskan bahwa ucapan itu lahir dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang dialami. Namun, Dwi menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan sikap anti-Indonesia, melainkan ekspresi emosional sebagai orang tua yang ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.
“Saya Mencintai Indonesia. Pernyataan itu murni pribadi dan saya menyesal atas dampak yang ditimbulkan,” tambahnya, sembari menyatakan siap bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.
Baca Juga: Link Video Nayafareza Blunder Viral, Misteri Baru di Balik Nama Nay TikTok
Latar Belakang Dwi Sasetyaningtyas dan Relevansi dengan Beasiswa LPDP
Dwi Sasetyaningtyas dikenal sebagai alumni LPDP yang aktif di bidang lingkungan dan pengelolaan sampah. Ia menempuh pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan melanjutkan magister di Delft University of Technology, Belanda, berkat dukungan beasiswa negara.
Sebagai influencer, ia sering membagikan konten edukatif tentang isu lingkungan di media sosial. Kasus ini kembali membuka perdebatan panas soal kewajiban moral dan hukum penerima beasiswa LPDP.
Publik menyoroti ekspektasi tinggi terhadap alumni untuk berkontribusi kembali ke Indonesia, bukan hanya prestasi akademik, tetapi juga komitmen kebangsaan.
Di sisi lain, sebagian pihak berpendapat bahwa pilihan kewarganegaraan anak merupakan ranah pribadi keluarga.
Kontroversi ini mencerminkan sensitivitas masyarakat terhadap isu nasionalisme, brain drain, dan akuntabilitas dana publik di tengah program beasiswa yang bertujuan membangun sumber daya manusia unggul untuk kemajuan bangsa.
