Ustaz Khalid Basalamah (Sumber: Instagram/@khalidbasalamahofficial)

RAMADHAN

Kapan Anak Sebaiknya Mulai Puasa Seharian Penuh? Ini Penjelasan Lengkap Ustadz Khalid Basalamah

Minggu 22 Feb 2026, 16:10 WIB

POSKOTA.CO.ID - Pertanyaan mengenai kapan anak sebaiknya mulai menjalankan puasa seharian penuh kerap muncul setiap memasuki bulan suci Ramadhan.

Banyak orang tua merasa berada di persimpangan antara keinginan mendidik anak, agar terbiasa beribadah sejak dini dan kekhawatiran terhadap kebutuhan gizi anak yang masih tinggi pada masa pertumbuhan.

Menanggapi fenomena tersebut, pendakwah sekaligus dai nasional Ustadz Khalid Basalamah memberikan penjelasan yang cukup komprehensif.

Melalui kanal YouTube pribadinya, ia menekankan bahwa pendidikan puasa pada anak tidak boleh dilakukan secara serampangan atau dengan pendekatan pemaksaan.

Menurut dia, pemahaman yang keliru justru dapat membuat anak memandang puasa sebagai beban, bukan sebagai ibadah sarat makna.

Lantas, pada usia berapakah anak sebaiknya mulai puasa seharian penuh? Berikut penjelasan lengkap Ustadz Khalid Basalamah yang bisa menjadi rujukan bagi para orang tua.

Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu! Jadwal Libur Awal Puasa Ramadhan 2026 untuk SD-SMA, Ini Rincian Tanggalnya

Kapan Anak Sebaiknya Mulai Puasa Seharian Penuh?

Seperti dikutip dari kanal YouTube Khalid Basalamah Official, pada Minggu, 22 Februari 2026, Anggota Dewan Penasihat Syariah di Rahmatan Lil 'Alamin Boarding School menjelaskan, dalam Islam tidak terdapat ketentuan usia pasti yang mewajibkan anak untuk berpuasa penuh.

Kewajiban puasa baru berlaku ketika seorang anak telah mencapai usia baligh. Namun demikian, anak tetap dianjurkan untuk dikenalkan dengan ibadah puasa sejak dini sebagai bagian dari proses pendidikan agama.

Menurutnya, kesiapan fisik dan mental anak jauh lebih penting dibanding sekadar faktor usia.

Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam menahan lapar, haus, dan kelelahan.

Oleh karena itu, orang tua diimbau, untuk tidak menyamaratakan kemampuan anak-anak mereka.

Dalam pandangannya, puasa pada anak seharusnya diposisikan sebagai sarana pendidikan, bukan kewajiban yang dipaksakan.

Baca Juga: Kapan Puasa 2026 versi Pemerintah? Berpotensi Beda dengan Muhammadiyah

Anak boleh diajak untuk bangun sahur bersama keluarga, diperkenalkan pada makna puasa, serta dilibatkan dalam suasana Ramadan yang hangat dan penuh kebersamaan.

Apabila anak mampu bertahan hingga waktu Maghrib, hal tersebut patut disyukuri. Namun, jika di tengah hari anak merasa tidak kuat dan ingin membatalkan puasa, orang tua tidak seharusnya memarahi atau memaksanya untuk tetap melanjutkan.

Lebih lanjut, salah satu poin penting yang disoroti adalah penggunaan istilah “puasa setengah hari” yang kerap digunakan dalam mendidik anak.

Menurut Ustadz Khalid Basalamah, istilah tersebut sebaiknya dihindari karena dalam syariat Islam tidak dikenal konsep puasa setengah hari.

Jika anak membatalkan puasa sebelum Maghrib, orang tua dianjurkan menjelaskan dengan jujur bahwa puasanya telah batal.

Anak kemudian bisa diarahkan untuk mencoba kembali di hari berikutnya. Cara ini dinilai lebih tepat dalam membangun pemahaman anak bahwa puasa sejatinya dilakukan secara penuh dari Subuh hingga Maghrib.

Ustadz Khalid juga mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan puasa anak sebagai bentuk prestasi atau kebanggaan berlebihan.

Memberi label “hebat” karena anak mampu berpuasa setengah hari dikhawatirkan dapat menanamkan pemahaman keliru tentang hakikat puasa itu sendiri.

Sebaliknya, orang tua dianjurkan menanamkan nilai kejujuran dan pemahaman bahwa puasa adalah ibadah yang memiliki aturan jelas.

Jika anak belum mampu melaksanakannya secara penuh, hal tersebut bukan sebuah kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar.

Dengan pendekatan yang konsisten dan penuh kesabaran, anak akan memahami bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran, kejujuran, dan ketaatan kepada Allah.

Tags:
kapan anak mulai puasapuasa RamadhanpuasaUstadz Khalid Basalamah

Mutia Dheza Cantika

Reporter

Mutia Dheza Cantika

Editor