JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP) Jakarta menintesifkan penertiban parkir liar selama Ramadhan 1447 Hijriah.
Kepala Satpol PP Jakarta, Satriadi mengatakan, pihaknya konsisten melakukan patroli mandiri sebagai langkah awal pengawasan ketertiban umum setiap hari.
“Kita hampir setiap hari rutin melakukan patroli. Namanya patroli mandiri. Dari patroli itu kita lihat, apakah ada potensi dilakukan penertiban. Kalau memang ada, kita rapatkan sinergi dengan TNI dan Polri,” kata Satriadi kepada Poskota, Sabtu, 21 Februari 2026.
Patroli rutin melibatkan empat personel dalam satu unit kendaraan. Ia mengatakan, jumlah tersebut dapat bertambah jika pelanggaran dengan volume besar atau berpotensi menimbulkan gangguan keamanan bagi petugas di lapangan.
Baca Juga: Parkir Liar di Jakarta: Tarif Digetok Semaunya, Keamanan Tidak Terjamin
“Kalau patroli rutin, sekitar empat orang satu mobil. Tapi kalau di satu TKP memang perlu dilakukan penertiban parkir liar atau jukir liar, kita koordinasi dulu dengan TNI dan Polri. Karena kalau jumlahnya terlalu banyak, itu berisiko bagi anggota,” ujarnya.
Sebelum melakukan penertiban berskala besar, pihaknya melakukan pengumpulan bahan keterangan sebagai bagian dari kerja intelijen.
Langkah ini dilakukan untuk menghindari kebocoran informasi yang dapat membuat para pelaku kabur sebelum penindakan dilakukan.
“Kalau sudah bocor, biasanya mereka kabur duluan. Makanya kita lihat situasi, pulbaket dulu, baru koordinasi gabungan supaya kekuatan penuh saat penertiban,” ucapnya.
Baca Juga: Masalah Parkir Liar di Jakarta, Pramono Janjikan Solusi Pembukaan Lapangan Kerja
Dalam pelaksanaannya, Satpol PP Jakarta juga menyesuaikan pola patroli dengan karakter wilayah. Di Tanah Abang, Jakarta Pusat, patroli dibagi ke beberapa blok dan wilayah administratif, mulai kelurahan hingga kecamatan.
“Dalam satu hari bisa sampai lima mobil patroli yang jalan ke area-area masing-masing. Wilayahnya sudah dibagi, ada perbatasan Jakarta Pusat dan Jakarta Barat juga,” katanya.
Menurutnya, sering kali muncul pelaku baru yang kembali memanfaatkan situasi setelah ditertibkan, terutama ketika ramai pengunjung.
“Kalau kendala ya karena berulang-ulang. Kita tertibkan, nanti muncul orang baru lagi. Biasanya memang momentum Ramadan, seperti di Tanah Abang. Hari biasa nggak terlalu, tapi kalau Ramadan, ramai dan dimanfaatkan untuk cari rezeki dengan cara yang salah secara aturan,” tuturnya.
Penertiban berskala besar akan melibatkan aparat lain. Ia menyebutkan, parkir ilegal dengan pungutan liar masuk dalam ranah pidana.
“Kalau yang kecil kita beri imbauan. Tapi kalau volumenya besar, kita koordinasi dengan TNI dan Polri. Yang bisa kita gebah, kita gebah,” ujar dia. (cr-4)