Dalam tahap awal, perusahaan Indonesia berkomitmen meningkatkan pembelian komoditas strategis dari Amerika Serikat, meliputi 1 juta ton kedelai, 1,6 juta ton jagung, 93.000 ton kapas, serta tambahan pembelian gandum hingga 5 juta ton pada 2030. Langkah ini ditujukan untuk menjaga stabilitas pasokan bahan baku industri dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Di sektor mineral, perusahaan tambang asal AS Freeport-McMoRan menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Investasi terkait pengembangan mineral penting, sekaligus membuka peluang perpanjangan izin operasi tambang setelah 2041.
Sementara itu, kerja sama peningkatan produksi migas dilakukan antara Pertamina dan perusahaan jasa energi Halliburton melalui program optimalisasi lapangan minyak yang telah beroperasi.
Perkuat Industri Teknologi
Kesepakatan juga mencakup pengembangan industri semikonduktor melalui usaha patungan senilai 4,89 miliar Dolar AS antara Essence Global Group dan mitra Indonesia, serta proyek teknologi lain yang melibatkan Tynergy Technology Group.
Di sisi lain, pengembang kawasan industri Galang Bumi Industri menandatangani kerja sama zona perdagangan bebas lintas negara dengan Solanna Group untuk meningkatkan daya tarik investasi dan memperkuat integrasi Indonesia dalam rantai pasok global.
Baca Juga: Prabowo Tunjuk Purbaya Pimpin Pansel DK OJK, Ini Daftar Anggota dan Mekanismenya
Hasil Diplomasi Ekonomi Berkelanjutan
Capaian ini melanjutkan komitmen bisnis sebelumnya senilai 34 miliar dolar AS yang diumumkan pada Juli 2025 dalam rangkaian negosiasi tarif kedua negara. Pemerintah Indonesia juga menargetkan penurunan tarif impor menjadi 18 persen dari posisi 19 persen yang berlaku sejak 2025.
Keberhasilan kesepakatan bisnis bernilai besar ini dinilai mencerminkan efektivitas diplomasi ekonomi pemerintah serta solidnya koordinasi tim ekonomi nasional dalam memperkuat posisi Indonesia di peta perdagangan dan investasi global.
