POSKOTA.CO.ID – Lagi viral rumah Jokowi di Jl Kutai Utara No 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta tiba – tiba ditandai sebagai “Tembok Ratapan Solo”.
Ramai diberitakan, penamaan tersebut pertama kali diketahui publik melalui tangkapan layar dan penelusuran di Google Maps. Di titik lokasi rumah pribadi Jokowi, tercantum label “Tembok Ratapan Solo”, tepat di alamat Jl. Kutai Utara No 1, Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah 57138.
Diketahui, dalam sistem Google Maps, penamaan suatu lokasi dapat dilakukan oleh pengguna melalui fitur kontribusi publik. Label sebuah tempat bisa muncul dan berubah sewaktu-waktu, bergantung pada proses verifikasi dan kebijakan platform.
Belum ada keterangan resmi mengenai siapa pihak pertama yang menambahkan nama tersebut maupun maksud di balik penamaan “Tembok Ratapan Solo”.
Baca Juga: Obrolan Warteg: OTT Lagi, OTT Lagi
“Sepertinya tak perlu mencari tahu siapa yang menambahkan penamaan tersebut. Yang jelas, kini menjadi viral, yang memunculkan beragam komentar,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Tentu yang memberi nama tersebut punya alasan, apalagi namanya cukup unik dan menarik: Tembok Ratapan Solo,” tambah Yudi.
“Kalau melihat makna harfiahnya dengan merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) : Tembok itu dinding yang terbuat dari bata, batako atau adonan semen dan pasir. Ratapan artinya tangisan yang disertai ucapan menyedihkan. Sedangkan Solo adalah nama kota di wilayah Jawa Tengah, “ urai mas Bro.
“Berarti tembok ratapan itu bisa diartikan tembok sebagai tempat untuk meratap?” tanya Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Diterapkan Pidana Kerja Sosial
“Iya seperti dalam video yang beredar di media sosial, rekaman yang memperlihatkan seorang pria berdiri di depan gerbang sambil memegang tembok, seolah-olah sedang meratap,” tambah Heri.
“Tafsir semacam itu boleh saja. Rekaman lain juga memperlihatkan sejumlah warga duduk bersila melakukan tahlilan di depan rumah pak Jokowi,”kata Yudi.
“Kalau soal rumah Jokowi sering didatangi warga bukan hal baru. Tak sedikit tokoh penting, mulai dari menteri, mantan menteri dan figur publik lainnya. Tapi tadi, tujuanya menyambung silaturahmi, bukan untuk meratap,” jelas mas Bro.
“Tapi mungkin saja ada yang datang untuk meratap, berkeluh kesah soal status dirinya dan masa depannya,” kata Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Tinggal Glanggang, Colong Playu
“Kalau bicara mungkin, semuanya serba mungkin, terlebih jika terkait dengan silaturahmi politik. Tapi, sebaiknya kita tak perlu menduga – duga,” ujar Heri.
“Yang namanya meratap boleh – boleh saja, misalnya soal kenaikan harga jelang puasa, kehilangan pekerjaan, orang yang dicintainya dan masih banyak lagi. Persoalannya haruskah kemudian meratap pada sebuah tembok?,” urai mas Bro.