POSKOTA.CO.ID - Media sosial kembali dihebohkan oleh peredaran sebuah video berdurasi 13 menit yang dikaitkan dengan mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Isu ini menjadi viral dan cepat menyebar dari satu platform ke platform lain dan memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat yang dikaitkan dengan perbuatan asusila.
Percakapan publik makin ramai karena video tersebut disebut-sebut melibatkan mahasiswa dari Universitas Mataram. Dugaan ini membuat banyak netizen mencari tahu kebenaran di balik rekaman yang viral tersebut.
Di tengah derasnya informasi, pihak desa setempat hingga kampus akhirnya angkat bicara untuk meluruskan kabar yang beredar agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas.
Baca Juga: Viral di LinkedIn, Prilly Latuconsina Beberkan Alasan Ingin Coba Profesi Sales Offline
Kronologi Video yang Beredar
Video berdurasi 13 menit 17 detik itu pertama kali ramai dibicarakan setelah tersebar luas melalui aplikasi percakapan, terutama WhatsApp. Dalam rekaman tersebut terlihat sepasang pria dan wanita yang diduga mahasiswa tengah bersama di sebuah ruangan.
Keduanya tampak bergantian meminum minuman berwarna cokelat muda sebelum kemudian melakukan tindakan yang dinilai tidak pantas. Potongan video inilah yang memicu spekulasi publik bahwa pemerannya merupakan peserta KKN di Lombok Timur.
Kepala desa lokasi KKN membenarkan bahwa mahasiswa memang sempat bertugas di wilayah tersebut. Namun, ia menegaskan tidak mengetahui apa pun terkait pembuatan video yang kini viral. Program KKN sendiri disebut telah selesai sejak awal Februari 2026.
Baca Juga: Video Fajar Sadboy Diludahi Indra Frimawan Viral? Begini Tanggapan Santainya
Klarifikasi dari Kampus dan Satgas
Isu yang berkembang membuat Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual kampus turun tangan memberikan penjelasan resmi. Ketua Satgas, Joko Jumadi, menegaskan bahwa pemeran dalam video bukan mahasiswa kampus tersebut.
Penelusuran internal menunjukkan video itu telah beredar sejak September 2025, bahkan sebelum kegiatan KKN berlangsung. Selain itu, perbedaan ciri fisik dan logat suara dinilai cukup jelas sehingga tidak sesuai dengan mahasiswa yang sempat dituding.
