“Tahun Kuda Api dimaknai penuh energi, keberanian, dan semangat baru. Perubahan dari Shio Ular Kayu ke Kuda Api menjadi simbol perubahan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap peristiwa kehidupan, termasuk musibah, merupakan bagian dari rahasia Tuhan. Namun, perbuatan baik diyakini akan mendatangkan berkah yang luar biasa.
Berbagi dan Berdoa
Setelah ritual pemandian, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembagian sembako kepada warga sekitar dua hari sebelum perayaan puncak Imlek. “Bantuan sembako kami bagikan kepada warga lingkungan sekitar,” kata Franky.
Pada hari H Imlek, umat akan melaksanakan ritual sembahyang bersama. Sejumlah perlengkapan ibadah telah disiapkan, mulai dari minyak pelita, hio sembahyang, hingga lilin beragam ukuran—bahkan ada yang mencapai tinggi dua meter.
“Pemasangan lilin saat sembahyang dipercaya membawa hoki,” ungkapnya.
Baca Juga: Jadwal Perayaan Imlek 2026 di Jakarta: Ini Rangkaian Festival dan Lokasi Perayaannya
Vihara juga dihiasi pernak-pernik khas Imlek seperti lampion dan aksesori bernuansa merah dan emas, menciptakan suasana hangat dan meriah di tengah lingkungan Kampung Jati.
Sebagai warga keturunan Tionghoa, Franky menegaskan bahwa perayaan Imlek tidak dimaksudkan untuk membedakan, melainkan sebagai bagian dari tradisi dan ungkapan syukur.
“Semua agama sama. Harapan kami di Tahun Kuda Api ini membawa keberkahan, keberuntungan, rezeki, kesehatan, serta pemulihan bagi umat yang sempat terdampak bencana,” tuturnya.
Di balik percikan air yang membersihkan rupangrupang suci itu, tersimpan doa-doa sederhana: tentang harapan, semangat baru, dan keyakinan bahwa tahun yang berganti akan membawa kebaikan bagi sesama.
