BOGOR, POSKOTA.CO.ID - Udara pagi di Kampung Jati, Desa Tonjong, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, terasa khidmat, Rabu, 11 Februari 2026.
Di dalam Vihara Buddha Darma & 8 Pho Sat yang lebih dikenal sebagai Vihara Budha Tidur umat Buddhis tampak khusyuk membersihkan satu per satu rupang di altar. Air dipercikkan perlahan, kain dilap dengan hati-hati, sementara doa-doa lirih mengalun menyambut Tahun Baru Imlek.
Ritual pemandian rupang menjadi bagian penting dalam rangkaian persiapan menyongsong Imlek. Tradisi ini dimaknai sebagai simbol pensucian dan pembaruan diri sebelum memasuki tahun yang baru.
Pengurus vihara, Franky Siswanto, mengatakan sedikitnya 21 altar DewaDewi serta para leluhur dimandikan menjelang perayaan Imlek.
Baca Juga: Jelang Imlek, AHY hingga Merry Riana Sapa Etnis Tionghoa di Teluknaga Tangerang
“Sebanyak 21 altar Dewa-Dewi dan para leluhur dimandikan menjelang perayaan Imlek,” ujar Franky, didampingi Ronal Fernandes, sesama pengurus vihara.
Franky, putra pendiri Vihara Budha Tidur Andi Suwanto atau yang akrab disapa Om Ade, menjelaskan altar-altar yang dimandikan antara lain Giok Hong Shiang Tee, Thian Tee, Taysuhu Sakyamuni Ji Lay Hud (Buddha Siddharta Gautama), Dewi Kwan Im, Mie Lek Phosat, Tee Cong Ong Phosat, Kuan Seng Tee Kun, Khong Cu Cu, Lao Cu, hingga rupang Buddha Tidur. Empat altar lainnya merupakan altar leluhur pendiri dan pengurus vihara.
Simbol Pembersihan dan Harapan Baru
Bagi umat, pemandian rupang bukan sekadar tradisi tahunan. Ritual ini menjadi simbol penyucian, sekaligus momentum refl eksi diri sebelum melangkah ke tahun yang baru.
“Makna pemandian altar Dewa-Dewi menyambut Imlek adalah simbol pensucian yang dilakukan umat Vihara Buddha Tidur yang datang dari berbagai kota seJabodetabek,” tutur Franky.
Baca Juga: Kumpulan Ucapan Tahun Baru Imlek 2026 dalam Bahasa Inggris untuk Sosial Media
Imlek 2026 memasuki Tahun Kuda Api. Menurut Franky, tahun ini termasuk yang paling dinantikan karena diyakini membawa semangat pembangkit.
“Tahun Kuda Api dimaknai penuh energi, keberanian, dan semangat baru. Perubahan dari Shio Ular Kayu ke Kuda Api menjadi simbol perubahan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap peristiwa kehidupan, termasuk musibah, merupakan bagian dari rahasia Tuhan. Namun, perbuatan baik diyakini akan mendatangkan berkah yang luar biasa.
Berbagi dan Berdoa
Setelah ritual pemandian, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembagian sembako kepada warga sekitar dua hari sebelum perayaan puncak Imlek. “Bantuan sembako kami bagikan kepada warga lingkungan sekitar,” kata Franky.
Pada hari H Imlek, umat akan melaksanakan ritual sembahyang bersama. Sejumlah perlengkapan ibadah telah disiapkan, mulai dari minyak pelita, hio sembahyang, hingga lilin beragam ukuran—bahkan ada yang mencapai tinggi dua meter.
“Pemasangan lilin saat sembahyang dipercaya membawa hoki,” ungkapnya.
Baca Juga: Jadwal Perayaan Imlek 2026 di Jakarta: Ini Rangkaian Festival dan Lokasi Perayaannya
Vihara juga dihiasi pernak-pernik khas Imlek seperti lampion dan aksesori bernuansa merah dan emas, menciptakan suasana hangat dan meriah di tengah lingkungan Kampung Jati.
Sebagai warga keturunan Tionghoa, Franky menegaskan bahwa perayaan Imlek tidak dimaksudkan untuk membedakan, melainkan sebagai bagian dari tradisi dan ungkapan syukur.
“Semua agama sama. Harapan kami di Tahun Kuda Api ini membawa keberkahan, keberuntungan, rezeki, kesehatan, serta pemulihan bagi umat yang sempat terdampak bencana,” tuturnya.
Di balik percikan air yang membersihkan rupangrupang suci itu, tersimpan doa-doa sederhana: tentang harapan, semangat baru, dan keyakinan bahwa tahun yang berganti akan membawa kebaikan bagi sesama.
