Keputusan tersebut tertuang dalam maklumat resmi Muhammadiyah bernomor 2/MLM/I.0/E/2025. Dengan dasar perhitungan tersebut, warga Muhammadiyah telah memiliki kepastian mengenai jadwal awal puasa tahun 2026.
Pemerintah Menunggu Sidang Isbat
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama akan menentukan awal Ramadhan melalui Sidang Isbat 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Februari.
Penetapan nasional bisa saja berbeda karena pemerintah menggunakan pendekatan rukyat yang berpadu dengan kriteria MABIMS.
Metode ini mensyaratkan posisi hilal harus memenuhi batas ketinggian tertentu agar dapat dinyatakan terlihat. Jika hilal belum memenuhi kriteria tersebut, maka awal bulan bisa ditetapkan sehari setelahnya.
Prediksi kalender Hijriah versi Kementerian Agama dan kajian BRIN menunjukkan kemungkinan 1 Ramadhan jatuh pada 19 Februari 2026. Perbedaan ini mencerminkan variasi metode penentuan awal bulan dalam tradisi penanggalan Islam.
Baca Juga: Niat Sholat Tarawih Sendiri di Rumah, Lengkap dengan Tata Caranya
Gerhana Matahari Cincin jatuh pada, 17 Februari 2026 menjadi penanda astronomis yang kuat dalam perhitungan kalender Hijriah. Bagi pihak yang menggunakan metode hisab global, fenomena ini memperkuat dasar dimulainya Ramadhan pada hari berikutnya.
Namun bagi pemerintah, keputusan akhir tetap bergantung pada hasil pengamatan hilal saat matahari terbenam. Perbedaan pendekatan ini merupakan bagian dari dinamika penetapan kalender Islam yang terus berjalan dari tahun ke tahun, sekaligus menunjukkan bagaimana ilmu astronomi dan tradisi keagamaan saling berkaitan dalam menentukan awal bulan suci.
