Obrolan Warteg: Ruang Publik Acak Adut, Salah Siapa?

Rabu 04 Feb 2026, 06:38 WIB
Obrolan warteg hari ini. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Obrolan warteg hari ini. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

POSKOTA.CO.ID - Wajah kota semrawut penuh beragam spanduk dan baliho menjadi perbincangan publik. Presiden Prabowo Subianto sampai meminta kepala daerah menciptakan ruang publik yang asri dan nyaman.

Seperti diberitakan, wajah kota dan daerah menjadi satu dari sekian pesan yang disampaikan Prabowo kepada para kepala daerah saat memberikan taklimat pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Semrawutnya baliho, spanduk iklan, dan kabel listrik serta utilitas yang menjuntai tidak tertata di ruang publik dinilai merusak estetika kota serta mengganggu kenyamanan publik. Ini harus dibenahi.

“Sepanjang mata memandang dalam perjalanan yang terlihat spanduk dan baliho membentang nggak karuan. Tak sedikit yang menutupi rambu jalan. Ruang publik terlihat acak adul.Kalau sudah begini siapa salah?” kata Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Berantas Korupsi tanpa Tedeng Aling-Aling

“Enggak usah saling menyalahkan dan mencari-cari kesalahan. Solusi sudah di depan mata,” ujar Yudi.

“Yang pasti, apa yang diutarakan Pak Presiden soal semrawutnya spanduk dan baliho, sama seperti yang kita rasakan, cuma kita mau bilang apa, paling mengeluh” tutur Yudi.

“Itu namanya Pak Presiden bisa merasakan denyut nadi masyarakat, apa yang menjadi keluhan rakyat, lantas menyelesaikannya dengan meminta para kepala daerah menertibkannya untuk mewujudkan Indonesia asri,” ucap mas Bro.

“Kalau kita, rakyat kecil yang protes, boleh jadi akan dijawab kamu tahu apa. Spanduk dan baliho iklan itu untuk pemasukan kas daerah. Kian banyak yang pasang spanduk dan baliho, pemasukan daerah akan semakin besar,” ungkap Heri.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Samakan Langkah, Ribuan Pejabat Berkumpul di Bogor

“Seandainya nih kita bilang lagi, tapi pasangnya jangan di tempat strategis yang mengganggu dan merusak keindahan kota. Boleh jadi akan dijawab, 'lho mereka berani bayar mahal karena tempatnya yang strategis',” beber Yudi.


Berita Terkait


News Update