"Yang parah itu rumah saya dan beberapa rumah lain. Dapur sudah habis," ujarnya.
Meski tinggal di rumah yang rawan longsor, Muslimah mengaku tidak memiliki pilihan lain untuk mengungsi. Ia dan warga lain masih bertahan karena tidak memiliki tempat tinggal alternatif.
"Rasa takut pasti ada, tapi mau pindah ke mana? Tidak ada tempat lain untuk mengungsi," ujarnya.
Baca Juga: Diduga Masalah Utang, Sopir Truk Nekat Gantung Diri di Rest Area Tol Tangerang Merak
Selama ini, tambah dia, warga sudah beberapa kali mengajukan usulan kepada pemerintah agar dilakukan penanganan permanen. Akan tetapi, bantuan yang diterima masih sebatas pada kebutuhan logistik.
"Bantuan cuma beras saja. Itu juga habis dalam dua atau tiga hari. Kami maunya ada solusi yang aman, entah dibangun atau dipindahkan," tuturnya.
"Makanya kami berharap agar pemerintah dapat memberikan solusi konkrit berupa relokasi ke tempat yang lebih aman," harapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Muharadua, Jumhadi menuturkan, kondisi longsor di Kampung Gagambiran saat ini sangat mengkhawatirkan. Bahkan sebagian rumah warga dilaporkan sudah mengalami kerusakan yang cukup serius.
Apalagi ada satu rumah warganya atas nama Ibu Ana, sebagian bangunan rumah itu sudah turun ke bantaran sungai. Kendati demikian, hingga kini belum ada rencana relokasi karena keterbatasan lahan dan anggaran.
"Penanganan yang dapat dilakukan pemerintah desa sejauh ini masih sebatas imbauan kewaspadaan kepada warga, terutama saat cuaca ekstrem. Karena untuk pembangunan kami tidak bisa berbuat banyak," ucap Jumhadi.
"Kalau relokasi ke mana, kami juga masih bingung. Belum ada rencana khusus, sementara ini hanya imbauan door to door," kata dia.
Jumhadi menambahkan, secara keseluruhan terdapat 14 rumah terdampak di sepanjang bantaran Sungai Ciujung di Kampung Gagambiran, dengan empat rumah mengalami kerusakan paling parah.
