POSKOTA.CO.ID - Shopee Paylater menjadi salah satu layanan paylater paling diminati masyarakat Indonesia. Popularitasnya terus meningkat seiring kemudahan berbelanja dengan sistem cicilan instan yang ditawarkan platform e-commerce tersebut.
Mayoritas pengguna Buy Now Pay Later (BNPL) menggunakan layanan Shopee paylater mengaku paling sering menggunakan Shopee Paylater. Angka ini menegaskan posisi Shopee Paylater sebagai layanan paylater terpopuler di Tanah Air.
Kemudahan transaksi, bunga cicilan ringan, hingga promo 0 persen untuk tenor tertentu membuat banyak pengguna merasa terbantu. Namun di balik kemudahan itu, terdapat risiko serius yang sering diabaikan, terutama jika pengguna telat membayar tagihan.
Keterlambatan pembayaran Shopee Paylater bukan hanya soal denda, tetapi juga dapat berdampak panjang pada kondisi finansial dan reputasi kredit pengguna. Lantas, apa saja bahaya yang bisa terjadi jika telat membayar Shopee Paylater?
Baca Juga: Paylater Makin Populer di Kalangan Gen Z, OJK Ingatkan Bahaya Kredit Macet
Denda Keterlambatan yang Terus Bertambah
Dampak paling cepat dirasakan saat telat membayar Shopee Paylater adalah denda keterlambatan. Shopee menerapkan denda sebesar 5 persen dari total tagihan yang belum dibayarkan.
Sekilas persentase tersebut tampak kecil, namun nominalnya bisa cukup besar jika nilai tagihan tinggi. Sebagai contoh, tagihan Rp2 juta akan dikenakan denda Rp100 ribu hanya karena terlambat satu bulan. Jika tunggakan berlanjut, jumlah denda akan terus bertambah dan semakin membebani keuangan.
Tak hanya itu, pengguna juga berisiko kehilangan akses ke berbagai promo menarik seperti cashback, voucher diskon, hingga penawaran eksklusif lainnya.
Skor Kredit Menurun dan Tercatat di SLIK OJK
Bahaya lain yang sering luput dari perhatian adalah penurunan skor kredit. Riwayat pembayaran Shopee Paylater dilaporkan ke Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.
Ketika pengguna tercatat menunggak, data tersebut dapat memengaruhi penilaian lembaga keuangan di masa depan. Saat mengajukan KPR, kredit kendaraan, atau pinjaman usaha, skor kredit menjadi salah satu faktor utama penilaian.
Jika keterlambatan terjadi berulang kali, reputasi kredit bisa memburuk dan membuat pengajuan pinjaman ditolak atau dikenakan bunga lebih tinggi karena dianggap berisiko.
