Harga di atas belum termasuk pajak dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini di Pegadaian Jumat 30 Januari 2026, UBS dan Galeri24 Kompak Meroket!
Tekanan Global Jadi Pemicu Turunnya Harga Emas
Penurunan harga emas tak lepas dari sentimen global. Harga emas dunia ikut melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve yang baru.
Warsh dikenal sebagai figur yang cenderung agresif dan kurang mendukung pemangkasan suku bunga, sehingga memicu penguatan dolar AS. Kondisi tersebut mendorong aksi likuidasi besar-besaran pada aset safe haven seperti emas.
Selain itu, kesepakatan sementara antara pemerintah AS dan Senat untuk mencegah penutupan pemerintahan juga menurunkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Prospek Harga Emas Pekan Depan, Masih Ada Peluang Rebound?
Diperkirakan harga emas berpeluang bergerak fluktuatif pada awal pekan depan. Pelemahan harga saat ini dinilai dapat memicu aksi bargain hunting, terutama jika ketegangan geopolitik global kembali meningkat.
Namun, jika penguatan dolar AS berlanjut dan kebijakan moneter AS tetap agresif, tekanan terhadap harga emas masih berpotensi berlanjut.
Untuk emas berjangka AS, pergerakan diperkirakan berada di area support USD 4.470–USD 4.195 per ons, dengan resistance di kisaran USD 5.250–USD 5.755 per ons.
Baca Juga: Berapa Harga Emas di Pegadaian Hari Ini 31 Januari 2026? UBS-Galeri24 Kompak Murah, Cek Daftarnya
Jual atau Beli Emas Saat Harga Bergejolak?
Dalam kondisi harga emas yang volatil, keputusan investasi perlu disesuaikan dengan tujuan masing-masing investor.
- Bagi investor lama: koreksi harga setelah reli panjang bisa menjadi momentum ambil untung sebagian, terutama jika sudah mencatatkan keuntungan signifikan.
- Sementara bagi investor baru: membeli emas saat harga masih bergejolak memiliki risiko tinggi, sehingga strategi pembelian bertahap atau menunggu koreksi lanjutan bisa menjadi pilihan yang lebih aman.
Ke depan, pergerakan harga emas akan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta pergerakan dolar AS.
