Puluhan tahun tinggal di wilayah rawan banjir membuat Maman mengaku lelah menghadapi kondisi yang terus berulang. Rumahnya termasuk dalam kawasan terdampak rencana normalisasi Kali Ciliwung dan telah didata pemerintah.
“Kalau memang mau digusur ya sudah, capek banjir terus,” ucapnya.
Baca Juga: BMKG Minta Warga Waspadai Cuaca Ekstrem jelang Peralihan Musim
Maman menyebut warga bantaran sungai sudah terbiasa menghadapi banjir. Saat banjir besar, aparat kepolisian kerap membantu evakuasi menggunakan perahu, terutama bagi warga yang tidak bisa berenang.
Hal serupa dialami Ahmad, 60 tahun, warga Kampung Melayu yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak kecil. Ia memperkirakan banjir terakhir merendam rumahnya hingga sekitar dua meter lebih.
“Air mulai naik sekitar Jumat pagi jam empat. Surutnya baru semalam,” kata Ahmad.
Selama Januari, Ahmad mencatat banjir terjadi sedikitnya empat kali, dengan dua di antaranya merupakan banjir besar.
"Ini yang terparah, biasanya sepinggang," ujarnya.
Ahmad juga memilih bertahan di rumah dan menunggu air surut di lantai atas bersama keluarganya. Ia menyebut sebagian besar perabotan sudah diamankan sehingga tidak mengalami kerusakan berarti.
“Barang-barang sudah dipindahkan semua, jadi tidak ada yang rusak,” katanya.
Meski banjir datang hampir setiap tahun, Ahmad mengaku belum berencana pindah. Ia hanya mendengar kabar normalisasi Kali Ciliwung kemungkinan dilakukan setelah Lebaran.
“Katanya habis Lebaran mau ada normalisasi, tapi belum tahu juga,” ucapnya. (cr-4)
