POSKOTA.CO.ID - Kehebohan soal dugaan es gabus berbahan spons yang menyeret nama pedagang kecil di Kemayoran terus bergulir dan memasuki babak baru.
Perhatian publik kini mengarah pada seorang perempuan muda bernama Luna yang disebut-sebut sebagai pemantik awal hoaks tersebut.
Identitas Luna perlahan terbongkar setelah warganet menelusuri jejak digital dari video viral yang sempat memicu keresahan. Aksi yang awalnya dianggap sebagai opini pribadi justru berujung pada gelombang kemarahan publik dan menyeret banyak pihak.
Kasus ini bukan sekadar soal viral di media sosial, tetapi juga menyentuh persoalan reputasi, dampak ekonomi, hingga intervensi aparat di lapangan.
Baca Juga: Pedagang Es Gabus Dituduh Pakai Spons, Wanita Ini Jadi Sasaran Hujatan
Identitas Luna Terkuak, Netizen Murka

Identitas perempuan yang diduga kuat sebagai penyebar hoaks pertama dalam kasus es gabus spons atau es kue spons viral akhirnya dikuliti netizen. Sosok bernama Luna (20), warga Bonsay, Cempaka Baru, kini menjadi sasaran kemarahan publik setelah aksinya meremas es milik Sudarjad (49) viral dan menghancurkan reputasi pedagang kecil tersebut.
Berdasarkan unggahan viral akun X @neVerAl0nely___ pada Selasa, 27 Januari 2026, Luna teridentifikasi sebagai orang yang pertama kali menggiring opini bahwa es gabus tersebut berbahan sintetis.
Dalam potongan video yang beredar, perempuan muda ini terlihat memprovokasi warga dengan narasi yang menyebut dagangan Sudarjad adalah "busa bedak".
"Blunder fatal! Niat hati ikut memberikan pendapat soal es gabus yang tengah viral, wanita ini justru banjir hujatan karena menyebutnya berbahan spons" tulis akun @neVerAl0nely___ dalam unggahannya yang dikutip Poskota pada, 29 Januari 2026.
"Warganet menyayangkan aksi tersebut karena dianggap merugikan pedagang tanpa adanya bukti valid. Kini, ancaman somasi Rp1 miliar pun menanti akibat dugaan pencemaran nama baik. Pelajaran penting buat kita semua untuk selalu kroscek informasi sebelum posting!" tambah akun tersebut.
Baca Juga: Siapa M Arief Fadillah? Identitas Pelapor Pedagang Es Gabus Viral di Depok Akhirnya Terbongkar
Akun Medsos Ditutup, Amarah Publik Membesar
Diketahui, perempuan berusia 20 tahun tersebut kini telah menonaktifkan akun media sosialnya setelah identitas dan lokasi tempat tinggalnya terbongkar. Namun langkah tersebut justru memicu reaksi berlawanan dari publik.
Aksi Luna yang merekam dan menyebarkan konten menyesat tersebut memicu dampak berantai. Dia diduga kuat menjadi penyebab oknum aparat di lapangan ikut terpancing dan melakukan tindakan kontroversial terhadap Pak Sudarjad.
Padahal, Sudarjad merupakan pedagang lama yang sudah 30 tahun mencari nafkah dengan berjualan es gabus. Narasi keliru yang beredar luas membuat usaha yang dibangunnya puluhan tahun nyaris runtuh dalam sekejap.
Polda Metro Jaya Turun Tangan
Dampak dari narasi hoaks yang dipantik Luna ini sangat serius hingga membuat Polda Metro Jaya harus turun tangan membenahi persepsi publik.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengakui adanya kesalahan prosedur oknum personel Bhabinkamtibmas di Kemayoran di lapangan akibat provokasi tersebut.
"Kami memohon maaf apabila di dalam upaya tindakan yang dilakukan oleh personel kami ada persepsi yang kurang baik atau kurang tepat. Polda Metro Jaya tidak pernah berniat menghambat usaha UMKM masyarakat," ujar Budi Hermanto, Rabu, 28 Januari 2026.
"Kami minta waktu karena Bid Propam masih mendalami, apakah ada unsur kesengajaan atau penganiayaan. Mungkin cara yang dilakukan oleh petugas tadi salah, sehingga membuat suatu tindakan yang kontroversial," imbuhnya.
Baca Juga: Fakta Resep Es Gabus: Tepung Hunkwe Bikin Teksturnya Mirip Spons
Desakan Tanggung Jawab Hukum dan Moral
Meski pihak kepolisian tengah mendalami pelanggaran etik anggotanya melalui Bid Propam, sorotan utama masyarakat tetap tertuju pada pertanggungjawaban Luna secara hukum dan moral.
Sebagai informasi, kasus ini bermula saat Sudarjad, pedagang es gabus legendaris, dituduh menjual produk berbahan spons. Video aksi pembakaran es oleh oknum petugas yang justru menunjukkan es itu meleleh normal, bukan terbakar layaknya plastik, menjadi viral dan memicu kemarahan netizen.
Meski hasil lab menyatakan es tersebut aman, dampak psikologis dan materiil telah dialami pedagang paruh baya itu sebelum akhirnya mendapatkan bantuan modal dari pihak kepolisian. Kasus ini pun menjadi pengingat keras tentang bahaya menyebarkan informasi tanpa verifikasi di era media sosial.