Perkuat Ekosistem JBA, ASLC Optimistis Pendapatan Tumbuh Dua Digit pada 2026 Ditengah Tantangan Industri Mobil Bekas

Rabu 28 Jan 2026, 19:40 WIB
Mr. Kazuhiro Shioyama (CEO JBA Indonesia), Armeza Farhansyah Umar (Chief of Financial Officer PT Autopedia Sukses Lestari Tbk, dan Deny Gunawan (COO JBA Indonesia). (Sumber: Poskota/Aldi Harlanda Irawan)

Mr. Kazuhiro Shioyama (CEO JBA Indonesia), Armeza Farhansyah Umar (Chief of Financial Officer PT Autopedia Sukses Lestari Tbk, dan Deny Gunawan (COO JBA Indonesia). (Sumber: Poskota/Aldi Harlanda Irawan)

Chief Executive Officer JBA Indonesia, Kazuhiro Shioyama, menyebut jaringan luas dan basis pembeli yang besar menjadi keunggulan utama JBA.

“Dengan lebih dari 90 ribu pembeli aktif lelang, serta dukungan kemitraan dengan lebih dari 400 perusahaan dan 7.000 dealer kendaraan bekas, volume transaksi JBA tetap kuat dan stabil,” kata Kazuhiro.

Menurutnya, JBA akan terus meningkatkan kualitas layanan melalui inovasi digital, termasuk sistem lelang online, pembayaran terintegrasi, serta perluasan jaringan untuk mendorong ekosistem otomotif nasional yang lebih transparan dan berkelanjutan.

Fokus 2026: Dorong Ritel Mobil Bekas dan Ekspansi Selektif

Direktur ASLC, Armeza Farhansyah Umar, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ke depan akan lebih banyak ditopang oleh segmen ritel mobil bekas melalui Caroline.id.

“Untuk JBA, pertumbuhannya tidak sebesar segmen ritel karena kondisi pasar lelang relatif lebih rendah. Fokus kami ada pada jual beli mobil bekas yang kami targetkan tumbuh dua digit,” ujar Armeza.

Dari sisi ekspansi, ASLC menargetkan pembukaan 2-3 cabang baru pada 2026 dengan belanja modal sekitar Rp15-20 miliar. Langkah ini lebih konservatif dibandingkan 2025, ketika perseroan membuka hingga 6 cabang dan menutup tahun dengan total 18 cabang.

Baca Juga: Pasar Otomotif 2025 Masih Tertekan, Toyota Harap Stimulus Tak Hanya untuk Mobil Listrik

Tantangan Kredit Masih Membayangi Industri

Meski optimistis, manajemen ASLC mengakui tantangan daya beli masih menjadi faktor krusial. Sekitar 50-60 persen transaksi kendaraan di Indonesia masih bergantung pada kredit, yang pada 2025 terdampak pengetatan persetujuan pembiayaan.

“Kami berharap stabilitas ekonomi di 2026 dapat mendorong pemulihan daya beli dan meningkatkan approval kredit dibandingkan 2024–2025,” pungkas Armeza.

Dengan penguatan digital marketing, edukasi konsumen secara masif melalui media sosial, serta inovasi pembiayaan seperti Flexi Pay dan JBA Payment, ASLC yakin dapat menjaga momentum pertumbuhan dan memperluas adopsi layanan lelang kendaraan di Tanah Air.


Berita Terkait


News Update