Lisa mengaku hanya mengonsumsi sedikit kepiting Alaska tersebut. Meski demikian, ia mulai merasakan pusing dan kliyengan.
“Gue pikir karena kolesterol, jadi gue minum air kelapa kemasan. Tapi tetap kliyengan,” ungkapnya.
Gejala yang lebih berat justru dialami anggota keluarga lain. Keponakan Lisa mengalami sakit perut hebat, muntah-muntah, hingga diare berulang.
“Keponakan gue bolak-balik kamar mandi karena diare dan muntah,” tuturnya.
Tak berselang lama, kondisi sang ibu memburuk hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Bahkan, anak dari makeup artist Lisa serta asisten rumah tangganya juga dilaporkan mengalami gejala serupa.

Dugaan Kesalahan Penanganan Suhu Kepiting Alaska
Lisa menduga keracunan ini terjadi akibat kesalahan penyimpanan dan distribusi kepiting Alaska, yang seharusnya berada pada suhu dingin tertentu agar tetap aman dikonsumsi.
“Kepiting Alaska itu harus di suhu tertentu. Kalau enggak, bakterinya bisa berkembang cepat,” jelas Lisa.
Dugaan ini sejalan dengan prinsip keamanan pangan, di mana seafood beku seperti kepiting Alaska wajib dijaga dalam rantai dingin (cold chain) untuk mencegah kontaminasi bakteri berbahaya seperti Vibrio atau Salmonella.
Baca Juga: Siapa M Arief Fadillah? Identitas Pelapor Pedagang Es Gabus Viral di Depok Akhirnya Terbongkar
Lisa Mariana Minta Tanggung Jawab Penjual
Selain menuntut pertanggungjawaban pihak penjual, Lisa juga menekankan pentingnya edukasi bagi pelaku usaha kuliner, khususnya seafood.
“Mohon edukasi pengusaha seafood lainnya bagaimana cara mengolah kepiting Alaska yang baik dan benar,” ucap Lisa Mariana.
Ia berharap kasus ini menjadi pembelajaran agar tidak ada lagi konsumen yang mengalami kejadian serupa. Hingga kini, Lisa menyatakan masih menunggu itikad baik dari pihak pemberi kepiting terkait tanggung jawab atas insiden tersebut.
