DEPOK, POSKOTA.CO.ID - Pedagang daging sapi di Pasar Reni Jaya Lama, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok melakukan aksi mogok dagang selama tiga hari sejak Kamis, 22 Januari 2026.
Kini para pedagang telah kembali berjualan seperti biasa. Berdasarkan pantauan Poskota di lokasi, sebanyak tiga kios daging yang berada di depan hingga belakang sudah membuka warungnya.
Yahya, 35 tahun yang merupakan pedangang daging sapi mengatakan bahwa aksi mogok tersebut adalah aksi yang dilakukan pedagang se-Jabodetabek.
“Selama tiga hari kemarin kami tetap berjualan tapi menggunakan daging sisa frozen. Kini sudah kembali normal dan pembeli banyak. Belum tengah hari sudah habis 40 kilogram, banyak yang nyari, banyak yang ambil 50 kilogram,” kata Yahya kepada Poskota pada Minggu, 25 Januari 2025.
Baca Juga: Beda Podgeter dan Vape Apa? Viral Disorot Warganet usai Terungkap Mengandung Zat Berbahaya
Harga Daging Sapi Masih Tinggi
Yahya menerangkan jika dirinya mengambil daging langsung dari jagal rumah pemotongan hewan (RPH) Ciputat. Sebelumnya rumah jagal tersebut turut ikut mogok berjualan.
Sehingga ia memastikan daging yang dijual merupakan daging segar. Terkait harga, ia pun menjual di bawah harga pasaran.
“Kami jual Rp140 ribu biar cepat habis. Pasarannya Rp150 ribu per kilogram, pembeli masih banyak rata-rata ibu rumah tangga,” kata Yahya
“Hari biasa jika jualan bisa dapat omset Rp3-4 juta. Hari ini Rp6 juta,” sambungnya.
Baca Juga: Jasmine Wiljono Siapa? Ini Sosok yang Viral Disebut Sebagai Pemilik Whip Pink
Ia pun berharap harga daging sapi stabil, sehingga harga pangan lainnya juga tetap terjangkau.
"Dalam setahun ini saja sudah ada kenaikan sebanyak dua kali. Pemerintah harusnya sudah bisa mengatasi kenaikan harga dengan mengambil upaya-upaya. Kenaikan harga ini membuat para pedagang pusing semua," tuturnya.
Terpisah pedagang daging sapi, Widya, 45 tahun, seorang ibu rumah tangga asal Reni Jaya, menanggapi dengan kenaikan harga ini pemerintah bisa mengambil tindakan supaya harga-harga tidak pada naik.
"Biasa harga daging perkilo Rp120 kilogram, ini sudah mencapai Rp150 ribu. Sangat tinggi sekali," ujar Widya.
Menurut Widya, meski harga tinggi mau tak mau tetap dicari meski biaya belanja harus ditambah.
"Sebagai ibu rumah tangga harga naik justru membebankan. Kalau bisa harga kebutuhan pokok bisa stabil," tuturnya.
