Baznas menyerahkan rumah Jumadi yang telah mendapatkan program bedah pascakebakaran. (Sumber: Dok. RW 01)

JAKARTA RAYA

Penyintas Kebakaran Sebut Rumahnya Kokoh dan Layak Huni seusai Dibangun Baznas

Sabtu 24 Jan 2026, 13:51 WIB

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Jumadi, 50 tahun, warga jalan Cempaka Putih Utara, Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat merasa senang rumah yang dihuninya masih kokoh berdiri. Ia mengungkapkan rumah tersebut hasil program bedah rumah oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) empat tahun lalu.

Rumah Jumadi dan tujuh rumah lainnya hangus terbakar jelang hari raya Idul Fitri pada April 2022. Saat itu, Ia dan keluarganya harus kehilangan tempat tinggalnya, lalu mengungsi ke tempat penampungan sementara di Pos RW.

Pria paruh baya itu menceritakan getir dan pahitnya peristiwa yang dialaminya kala itu. Bersama keluarganya dan keluarga lainnya terpaksa harus tinggal di pengungsian.

"Peristiwa tidak diharapkan terjadi lagi buat kami. Kala itu semua habis dan tak tersisa dan hanya satu baju yang melekat di badan," kata Jumadi dengan nada lirih di kediamannya.

Baca Juga: Mati Listrik 7 Hari di Indonesia, Apakah Benar atau Hoaks? Ini Fakta Sebenarnya dan Penjelasan PLN

Ia menuturkan harus berlebaran di pengungsian dan bersama pengungsi lainnya. Walau semuanya ludes tak tersisa, ia masih bersukur masih dapat selamat dari kebakaran.

Dapat Program Bedah Rumah

Rasa syukur lainnya juga diungkapkannya bisa dapat tinggal sementara di Pos RW yang tempatnya cukup baik. Kemudian, ia menerima kabar bahagia dari Ketua RW, Bambang Eko Djiwandono tentang rumahnya yang akan dibangun BAZNAS.

"Jadi rumah saya ini dibangun oleh BAZNAS dan sampai saat ini hampir empat tahun masih kokoh. Ini perannya Ketua RW sebelumnya pak Bambang. Pak Bambang yang mengurusi agar rumah saya bisa dapat bantuan bedah rumah BAZNAS," ujarnya.

Selama dalam pengungsian, tim bedah rumah BAZNAS mulai membangun rumah Jumadi yang ludes terbakar. Pembangunan rumahnya memakan waktu hampir empat bulan dengan konsep bangunan yang layak huni. Usai pembangunan selesai, ia sekeluarga bisa menempati rumah baru yang lebih kokoh dan layak huni.

Baca Juga: Penyebab Mati Listrik 7 Hari di Indonesia Apa? Ternyata Ini Penjelasan Lengkapnya

Sementara itu, Ketua RW 01 Cempaka Baru saat itu yakni Bambang Eko Djiwandono menuturkan melihat penderitaan yang dialami warganya yang kehilangan tempat tinggal. Ia lalu berusaha mendatangi BAZNAS agar warganya sebagai penyintas kebakaran dapat dibantu.

Menurut Bambang, usaha dan pengorbanannya tidak sia-sia. Bambang mengungkapkan dapat bantuan dari berbagai pihak seperti kelurahan dan Baznas.

"Sukur Alhamdulillah BAZNAS berikan paket untuk lebaran dan juga bedah rumah. Dari tujuh rumah yang terbakar, dua rumah yang dibangun. Satu oleh BAZNAS dan satu lagi dari Pemda. Selain rumah pak Jumadi ada juga rumahnya pak Said," ucapnya.

Terpisah, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Fahira Idris mengapresiasi Baznas. Menurut Senator, badan tersebut berperan strategis zakat dalam pembangunan nasional.

Program bedah rumah dan lainnya milik Baznas merupakan usaha untuk menguatkan bangsa. Fahira jelaskan mencerminkan posisi zakat yang tidak hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga instrumen sosial-ekonomi yang mampu memperkuat ketahanan bangsa.

Senator Jakarta ini menilai, diusia seperempat abadnya, BAZNAS telah menunjukkan kontribusi nyata dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara lebih profesional dan terstruktur, mulai tingkat pusat hingga daerah.

Baca Juga: Melalui BAZNAS RI, BAZNAS Kabupaten Bekasi Salurkan Bantuan Kemanusiaan Bencana Sumatra Rp459 Juta

Program-program pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, tanggap bencana, hingga pemberdayaan ekonomi umat menjadi bukti bahwa zakat dapat dikelola secara modern dan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

“Di negara dengan mayoritas penduduk Muslim dan tingkat ketimpangan yang masih menjadi tantangan, zakat memiliki potensi luar biasa sebagai penguat solidaritas sosial dan instrumen keadilan ekonomi. Zakat harus diposisikan sebagai bagian dari solusi kebangsaan,” katanya.

Namun, ia mengingatkan, tantangan pengelolaan zakat di Indonesia masih cukup besar. Potensi zakat nasional yang tinggi belum sepenuhnya tergarap optimal, sementara literasi zakat masyarakat masih beragam.

Di sisi lain, kompleksitas persoalan kemiskinan, pekerja informal, hingga kelompok rentan yang terdampak krisis global dan bencana, menuntut pendekatan zakat yang semakin adaptif dan berkelanjutan.

Baca Juga: BAZNAS RI Ajak Masyarakat Sambut Ramadan, Pulihkan Sumatra

Aktivis perempuan ini juga menekankan pentingnya menjaga dan meningkatkan kepercayaan publik. Transparansi, akuntabilitas, serta tata kelola yang kuat menjadi prasyarat utama agar zakat terus tumbuh dan memberikan dampak yang lebih luas. Pemanfaatan teknologi digital dalam penghimpunan dan pelaporan zakat dinilai sebagai langkah strategis yang harus terus diperkuat.

Berangkat dari berbagai tantangan tersebut, Fahira Idris menyampaikan sejumlah strategi agar zakat benar-benar menjadi kekuatan bangsa. Pertama, penguatan tata kelola dan transparansi harus menjadi fondasi utama pengelolaan zakat. Sistem pelaporan yang terbuka, audit yang konsisten, serta pemanfaatan teknologi akan memastikan dana zakat tersalurkan tepat sasaran dan berdaya guna.

Kedua, pendayagunaan zakat perlu semakin diarahkan pada program pemberdayaan produktif dan berkelanjutan. Zakat tidak boleh berhenti pada bantuan konsumtif, tetapi harus menjadi instrumen untuk memutus rantai kemiskinan melalui penguatan UMKM, ekonomi pesantren, ekonomi syariah lokal, dan penciptaan kemandirian mustahik.

Ketiga, sinergi antara zakat dan agenda pembangunan nasional perlu diperkuat tanpa menghilangkan prinsip-prinsip syariah. Zakat dapat menjadi mitra strategis negara dalam penanggulangan kemiskinan ekstrem, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan jaring pengaman sosial.

Keempat, peningkatan literasi zakat harus menjadi gerakan bersama. Edukasi berkelanjutan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, penting untuk membangun kesadaran, zakat bukan hanya kewajiban individual, tetapi bagian dari kontribusi nyata membangun bangsa.

Ketua Umum Daiyah Parmusi ini menegaskan, Baznas yang berusia 25 tahun, berada pada momentum penting untuk melompat lebih jauh sebagai penggerak solidaritas nasional. Dengan tata kelola yang semakin profesional, orientasi dampak yang kuat, serta kolaborasi lintas sektor, zakat diyakini mampu menjadi pilar ketahanan sosial dan ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Beasiswa Cendekia BAZNAS Timur Tengah 2025 Resmi Dibuka, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

“Bangsa yang kuat tidak hanya ditopang oleh pertumbuhan ekonomi dan kekuatan politik, tetapi juga oleh nilai keadilan sosial yang hidup dan bekerja nyata. Jika dikelola dengan amanah dan visioner, zakat akan menjadi salah satu kekuatan utama bangsa Indonesia,” tuturnya.

Tags:
Baznasbedah rumahkebakaran rumahJakarta Pusat

Heri Effendi

Reporter

Febrian Hafizh Muchtamar

Editor