JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pemerintah Indonesia terus mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan melalui penerapan solar B40.
Kebijakan ini mengombinasikan bahan bakar solar dengan kandungan biodiesel yang lebih tinggi sebagai bagian dari upaya menekan emisi sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
Seiring implementasinya, solar B40 kini digunakan secara luas di berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur, transportasi logistik, alat berat, hingga pembangkit listrik.
Mesin diesel dengan jam kerja tinggi menjadi andalan utama sektor-sektor tersebut, sehingga kualitas bahan bakar memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas operasional dan efisiensi biaya.
Baca Juga: Geely Siapkan Enam Mobil Baru untuk Pasar Indonesia
Namun, peningkatan kandungan biodiesel juga menghadirkan tantangan teknis yang tidak bisa diabaikan, khususnya terkait karakteristik bahan bakar dan sistem penyimpanannya.
Karakter Biodiesel dan Problem Solar B40 yang Muncul
Biodiesel dalam campuran solar B40 memiliki sifat higroskopis, yakni lebih mudah menyerap air dibanding solar konvensional. Faktor ini membuat kualitas bahan bakar sangat dipengaruhi oleh kondisi tangki, sistem sirkulasi, serta lamanya penyimpanan.
Dalam kondisi tertentu, sifat tersebut dapat memicu pembentukan endapan seperti sludge dan slime, bahkan memicu pertumbuhan mikroorganisme.
Fenomena inilah yang kerap disebut sebagai problem solar B40, terutama pada mesin diesel yang beroperasi secara intensif dan berkelanjutan.
Baca Juga: 1.938 Unit Terjual, Konsumen Ungkap Kesan Nyata Pakai Wuling Darion EV
Jika tidak ditangani dengan baik, endapan yang terbentuk berpotensi menghambat aliran bahan bakar, mempercepat penyumbatan filter, hingga berdampak pada penurunan performa mesin.
Risiko ini menjadi perhatian serius di sektor logistik, pertambangan, perkapalan, penggunaan genset, serta industri yang bergantung pada keandalan mesin diesel.
Adaptasi Pengelolaan Bahan Bakar di Era Solar B40
Meluasnya penggunaan solar B40 menuntut perubahan pendekatan dalam pengelolaan bahan bakar. Sistem penyimpanan, perawatan tangki, serta pengawasan kualitas bahan bakar menjadi aspek penting untuk mencegah gangguan operasional.
Salah satu pendekatan yang mulai diterapkan di sektor industri adalah penggunaan additive bahan bakar yang dirancang untuk membantu menjaga stabilitas solar B40 selama penyimpanan dan pemakaian.
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya adaptasi terhadap karakter biodiesel yang lebih tinggi, khususnya dalam jangka panjang.
Baca Juga: JKONE Owners Club Indonesia Resmi Berdiri, Indomobil Perkuat Ekosistem Komunitas Jeep
Peran Additive dalam Menjaga Stabilitas Solar B40
Additive solar B40 umumnya diformulasikan untuk membantu mengurangi kecenderungan terbentuknya endapan, menjaga kebersihan sistem bahan bakar, serta mendukung kelancaran aliran solar ke ruang bakar.
Pendekatan ini ditujukan untuk meminimalkan problem solar B40 tanpa menambah kompleksitas perawatan mesin diesel.
Salah satu additive yang dikembangkan di dalam negeri adalah Verdeen Industrial Diesel. Produk ini dirancang dengan pendekatan green chemistry, mengedepankan keseimbangan antara performa teknis, keamanan komponen mesin, serta dampak terhadap lingkungan.
Sebagai additive pendukung, formulasi berbasis bio-natural yang digunakan ditujukan agar tidak bersifat agresif terhadap sistem bahan bakar, sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang pada mesin diesel berbasis solar B40.
Menjaga Keandalan Mesin Diesel di Tengah Transisi Energi
Secara umum, penggunaan additive solar B40 diarahkan untuk membantu menekan risiko sludge dan slime, menjaga kelancaran aliran bahan bakar, mengurangi potensi penyumbatan filter, serta mendukung proses pembakaran yang lebih stabil.
Pendekatan ini relevan untuk berbagai aplikasi, mulai dari kendaraan logistik, alat berat, kapal, genset, hingga mesin industri.
Bagi pelaku industri, stabilitas bahan bakar menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga efisiensi operasional. Pengelolaan solar B40 yang tepat, termasuk pemilihan additive yang sesuai, dinilai dapat membantu menekan risiko gangguan mesin akibat perubahan karakter bahan bakar.
Ke depan, seiring semakin luasnya penerapan solar B40, solusi pendukung seperti additive dipandang sebagai bagian dari ekosistem adaptasi industri. Inovasi lokal di bidang ini mencerminkan kesiapan sektor nasional dalam menghadapi transisi energi menuju sistem yang lebih bersih dan berkelanjutan.