Gejala awal biasanya berupa tombol yang terasa keras atau kurang responsif saat ditekan. Jika dibiarkan, kotoran tersebut dapat menghambat aliran listrik dan membuat saklar tidak berfungsi.
Selain itu, keausan komponen internal juga kerap terjadi seiring usia pemakaian. Bagian seperti pegas, plat kontak, maupun elemen plastik kecil di dalam saklar dapat mengalami penurunan kualitas akibat penggunaan rutin dalam jangka panjang.
Paparan air berlebih turut meningkatkan risiko kerusakan. Motor yang sering digunakan saat hujan atau disimpan di lingkungan lembap berpotensi mengalami korosi pada kontak saklar. Karat inilah yang membuat aliran arus listrik terganggu, meski secara tampilan luar saklar terlihat normal.
Baca Juga: Penjualan Mobil Listrik GAC Naik di 2025, AION V Jadi Model Terlaris
Masalah lain yang kerap luput diperhatikan adalah gangguan pada kabel kelistrikan. Kabel yang longgar, putus, atau mengalami korsleting dapat menyebabkan saklar tidak merespons, meskipun unit saklar masih dalam kondisi baik.
Faktor terakhir datang dari modifikasi kelistrikan yang tidak sesuai standar. Penggunaan saklar aftermarket tanpa perhitungan teknis yang tepat dapat memicu ketidakstabilan arus listrik, mempercepat kerusakan saklar, serta berdampak pada komponen kelistrikan lain di sepeda motor.
“Saklar motor memiliki peran penting dalam menunjang keselamatan berkendara. Gangguan kecil pada saklar dapat berdampak besar di jalan. Karena itu, kami mengimbau konsumen untuk rutin melakukan pemeriksaan di bengkel resmi AHASS agar kondisi saklar dan sistem kelistrikan tetap terjaga sesuai standar,” ujar Technical Analyst PT Wahana Makmur Sejati, Wahyu Budhi.
