JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Aksi mogok dagang yang dilakukan para pedagang daging sapi di Jabodetabek selama tiga hari turut berdampak kepada para pelaku usaha makanan olahan.
Salah satunya Sudirman, 55 tahun, merupakan pedagang bakso keliling yang kerap kali mangkal di kawasan Jakarta Timur.
Sudirman yang baru kembali dari kampung mengaku sempat kebingungan menentukan jenis dagangan yang akan dijual. Pasalnya, sebagai pegadang bakso, ia biasa menggunakan daging sapi sebagai bahan utama adonannya.
Namun, karena pasokan daging sapi kosong akibat aksi mogok yang dilakukan para penjual, ia terpaksa beralih membuat bakso ayam.
Baca Juga: Oscar Darmawan Laporkan Dugaan Pencemaran Nama Baik, Polda Metro Jaya Telusuri Akun Anonim
“Bakso ayam soalnya sapi lagi kosong, lagi mahal. Ini lagi demo-demoan ceritanya,” ujar Sudirman saat ditemi Poskota di Cakung, Kamis, 22 Januari 2026.
Sudirman mengetahui bahwa aksi mogok dagang ini akan berlangsung selama tiga hari. Padahal, ia mengaku baru saja berjualan kembali setelah sebelumnya pulang kampung.
Meski beralih ke bakso ayam, Sudirman tetap mencoba berjualan seperti biasa. Ia mengungkapkan, penjualan tidak turun drastis meskipun kualitas sajian sedikit berubah.
“Kalau pakai ayam enggak ada tetelan, enggak ada tulang. Jadi cuma pakai mie kuning bihun sama sayur, ini juga ada tambahan tahu coklat,” ucap Sudirmanp.
Baca Juga: Sebuah Gedung Tempat Tinggal Pekerja Bangunan di Cimanggis Depok Ludes Terbakar
Di tengah kondisi sulit, Sudirman memilih tetap melayani pembeli apa adanya. Ia tidak menolak meski ada pelanggan yang hanya membeli dengan uang Rp5.000 atau Rp10.000.
“Seberapa pun yang punya duit, saya layanin aja, enggak nolak,” kata Sudirman.
Menurutnya, kenaikan harga daging tentu berdampak pada penghasilan. Sudirman berusaha menyikapinya dengan pasrah dan berharap kedepannya harga bisa kembali stabil.
“Pengennya sih ya agak standar dikit lah. Naik ya naik, tapi berjalan aja,” ucapnya.
Baca Juga: Kenaikan Harga Picu Mogok Pedagang, Seluruh Kios Daging Sapi Pasar Cakung Tutup
Untuk menyiasati mahalnya bahan baku, Sudirman juga mengurangi isi bakso, seperti mengurangi jumlah bulatan bakso dalam satu porsi. Baginya, yang terpenting tetap bisa berjualan dan mempertahankan pelanggan.
“Bisa dikurangin satu atau beberapa biji, yang penting bisa ngatur aja,” katanya.
Selama mogok dagang sapi berlangsung, ia berencana menjual bakso ayam terlebih dahulu, meski itu pun tergantung ketersediaan bahan di tukang giling.
“Kadang-kadang tukang gilingnya juga ikut berhenti. Kalau ada ya jalanin, kalau enggak ada ya istirahat dulu,” ujarnya.
Sebagai pedagang keliling, Sudirman merasa sedikit lebih fleksibel karena bisa berpindah-pindah lokasi. Jika sepi di satu tempat, ia akan bergeser ke tempat lain.
Menurutnya para pedagang yang memiliki lapak tetap akan mendapatkan dampak lebih banyak, dimana mereka takut kehilangan pelanggan.
“Kalau saya kan ibaratnya enggak dapat di sini, geser lagi, geser lagi. Kalau yang mangkal, pengaruhnya masih kurang, takut langganannya kabur,” ungkap Sudirman. (cr-4)