Kondisi rumah warga di Muara Baru, Jakarta Utara yang terlihat retak, Minggu, 11 Januari 2025. (Sumber: Poskota/M Tegar Jihad)

JAKARTA RAYA

Permukaan Tanah Jakarta Utara Turun hingga Tiga Meter di Bawah Permukaan Laut, BRIN Ungkap Peyebabnya

Minggu 11 Jan 2026, 18:37 WIB

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa penurunan tanah (land subsidence) yang terjadi di Jakarta, khususnya wilayah utara, merupakan dampak dari proses geologi alami yang diperparah oleh aktivitas manusia, terutama pengambilan air tanah secara masif dan berlangsung puluhan tahun.

Peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Yus Budiyono, menjelaskan bahwa secara geologi wilayah Jakarta bagian utara tersusun oleh tanah aluvium. Jenis tanah ini secara alami memang mengalami proses pemadatan atau kompaksi seiring waktu.

"Yang pertama, geologi Jakarta itu tersusun di bagian utara utamanya oleh tanah aluvium. Tanah aluvium itu dia sebenarnya mengalami kompaksi secara alami," ucap Yus kepada Poskota, Minggu, 11 Januari 2025.

Yus mengungkapkan, proses alami tersebut menjadi jauh lebih cepat ketika air tanah yang berada di bawah lapisan aluvium diambil secara berlebihan. 

Baca Juga: Dinkes Kabupaten Tangerang Catat Puluhan Kasus ISPA di Musim Pancaroba, Imbau Waspada Super Flu

"Permasalahannya, tanah aluvium itu akan lebih cepat kompaksinya kalau kemudian air tanah yang ada di bawahnya itu diambil (secara berlebihan). sehingga tanahnya berkonsolidasi sehingga turun," ujar Yus. 

Ia menyebut, pada sekitar tahun 1975–1976, wilayah utara Jakarta masih berada sekitar satu meter di atas permukaan laut. 

"Cuman, pada sampai sekitar tahun 1975-an, 76 kalau nggak salah, itu di daerah utara, bagian utara Jakarta ketinggiannya masih 1 meter di atas permukaan laut," kata Yus. 

Namun, dikatakan Yus, akibat pengambilan air tanah secara berlebihan mulai dari pemukiman hingga perusahaan industri membuat permukaan tanah menurun secara bersamaan.

"Karena pengambilnya itu merata ke seluruh daerah Jakarta, baik yang pemukiman maupun yang industri, yang komersial dan lain-lain, sehingga tanahnya juga turun bersama-sama," ungkap dia. 

Baca Juga: DJP Dukung Penuh KPK Usut Dugaan Korupsi di KPP Madya Jakarta Utara

Yus menyampaikan, tanpa disadari penurunan tanah terus berlangsung hingga kini menimbulkan berbagai persoalan serius, seperti banjir rob yang semakin sering terjadi.

"Kita enggak sadar bahwa tanahnya turun sampai kemudian sekarang terjadi rob dan kita tahu bahwa di titik terendahnya Jakarta itu sudah sekitar 3 meter di bawah permukaan laut. Mungkin justru lebih atau 3,5 meter," kata dia. 

Lebih jauh, Yus menilai dampak jangka panjang penurunan tanah sangat bergantung pada pilihan manusia sendiri dalam mengelola kota. Menurutnya, keberlanjutan Jakarta sebagai kota layak huni ditentukan oleh keputusan kolektif warganya dan pemerintah.

"Ya kalau dampak jangka panjang terhadap keberlanjutan kota ya, tergantung kita, apakah kita masih ingin tinggal di Jakarta atau Jakarta itu akan kita tinggalkan," ujar Yus.

"Nah, itu terserah kita karena manusia itu kan Homo sapiens yang sudah menetap ya sejak era neolitikum dan sejak itulah kemudian kita banyak mempengaruhi alam kita," ucap dia. 

Baca Juga: 109 Tiang Monorel Sepanjang Jalan Rasuna Said Dibongkar, Pemprov DKI Pastikan Penataan Kawasan Kuningan Berjalan Transparan

Yus menegaskan, penurunan tanah sebenarnya masih bisa dihentikan, meski tidak mungkin dikembalikan ke kondisi semula seperti puluhan tahun lalu. Yang realistis dilakukan adalah menghentikan laju penurunan agar tidak semakin parah, sehingga perencanaan kota baru bisa dilakukan secara lebih aman dan berkelanjutan.

"Kalau tidak ya kalau dibiarkan pengambilan air terus-menerus kemudian land subsidence berlanjut terus ya niscaya gedung-gedung itu akan miring, retak dan lain-lain," ungkap Yus. 

Sebagai pembanding, Yus mencontohkan sejumlah kota di dunia yang berhasil menghentikan penurunan tanah melalui kebijakan tegas. Tokyo, Jepang, misalnya, mulai menyadari masalah land subsidence sejak 1925. Pemerintah setempat kemudian secara bertahap membatasi pengambilan air tanah mulai 1950, dari sektor perumahan hingga industri.

"Sampai akhirnya pada industri pun tidak boleh. Nah, itu ketika Tokyo mulai 1950, 1975 itu land subsidence-nya baru berhenti," ujarnya. 

Contoh lain terjadi di Santa Clara, California, Amerika Serikat. Di kawasan pertanian lahan kering tersebut, pengambilan air tanah untuk irigasi jagung dihentikan. Selain karena lokasinya jauh dari pantai, lahan tersebut kemudian dialihfungsikan sehingga tekanan terhadap air tanah dapat dikurangi. 

"Ada juga contoh lain misalnya di daerah California, Santa Clara, di daerah-daerah pertanian lahan kering yang mengambil air dari dalam tanah untuk kebutuhan menyiram jagung utamanya itu ya ditinggalkan hanya karena dia jauh dari pantai kemudian lahannya dialihfungsikan bukan lagi untuk pertanian tapi pengambilan air tanahnya dihentikan," ujar Yus. (cr-4)

Tags:
banjir robJakartapenurunan tanah jakartapenurunan tanahJakarta UtaraMuara Baru

Tim Poskota

Reporter

Muhammad Faiz Sultan

Editor