Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre). (Sumber: Poskota)

SERBA-SERBI

Ekonomika Pancasila: Di Atas Bendera Ekonomi Korupsi

Rabu 07 Jan 2026, 23:42 WIB

Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)

KPK menangkap rata-rata satu koruptor setiap minggu dan kita membaca berita korupsi setiap hari. Ujungnya, Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN) jadi tradisi bahkan agama; melawan KKN seperti mengalami seribu pertempuran tetapi seribu satu kekalahan.

Kutukan negeri korupsi tentu tidak datang dengan singkat bermartabat, tetapi terstruktur, sistematis dan masif. Pelan tapi pasti. Satu demi satu takluk: dari lembaga dan agensi. Lalu, menyempurna dalam kurikulum dan sekolah.

Sesungguhnya, tradisi KKN hadir pelan-pelan, seperti kabut tipis yang menukik dari pegunungan, mengendap di rongga langit, menyusup ke dalam hati, pikiran, dan perbuatan pejabat yang jadi penjahat. Lalu, perlahan mengikis dan mendelet ideologi Pancasila serta lima agama resmi.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Ekonomisasi Rempah

27 tahun telah berlalu sejak reformasi di seluruh kota Indonesia berakhir, Waktu panjang yang seharusnya menghilangkan justru membuatnya makin masif. Orde Anti KKN yang dibangun oleh para patriot pancasila, kini sudah lenyap arahnya, jiwanya dan kisahnya.

Tanda-tanda kejahiliyahan, kegelapan dan amoralisme mulai bermunculan. Ini seolah alam semesta sedang menyampaikan peringatan terakhir sebelum negeri ini lenyap atau pecah berkeping-keping.

Firasat buruk bertebaran tanpa wujud yang jelas. Gerimis dan hujan yang dahulu sejuk bagi warga negara kini bergelombang banjir dan menggulung, membawa berton lumpur dan bau amis yang tidak tak terpikirkan.

Setiap hari, dinding-dinding istana dari batu mulia bergetar halus, menimbulkan suara samar yang membuat hati gelisah, seakan bangunan itu sendiri menyadari kutuk buruk mendekat, meremuk serta kalut.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Ekonomi Minus Kemakmuran

Di dalam rumah ibadah dan gudang-gudang padi yang melimpah, keanehan semakin nyata. Tikus-tikus hitam berkembang biak dengan cepat, tak lagi takut pada manusia. Di pinggiran kota, lolongan serigala terdengar memanjang, menyerupai rintihan manusia yang sekarat.

Namun, bagi elite Indonesia, perubahan alam itu bukan pertanda yang harus disadari. Justru, mereka menumpuk berjilid keruntuhan batin, keculasan mental dan kelicikan karakter. Singkatnya, mereka yang dahulu hidup dalam disiplin dan kesadaran nasionalisme kini tenggelam dalam keserakahan epistemik.

Narkoba, suap dan arak beredar tanpa batas. Pinjol merajalela. Judol jadi kebanggaan. Warganya, dimabukkan oleh kemakmuran dan kemenangan lama, lalu kehilangan rasa hormat. Orang tua, guru, dan para idealis dihina. Hukum dipermainkan oleh penegak hukum, aturan dilanggar, undang-undang hanya jerat untuk kaum miskin dan lemah.

Spiritualisme dan perlindungan ilahi yang selama ini menaungi, semua perlahan hilang. Dengan jelas, cakrawala tak terlihat tenang dan "adem" sebab yang ada hanya takdir penuh kesedihan dan kepariaan.

Indonesia kini telah kehilangan jiwanya karena warga negaranya tidak lagi mengenal diri sendiri. Mereka terlalu lama memuja ego dan kenikmatan duniawi yang semu serta profan.

Akibatnya, hukum Tuhan kini tak lagi ditakuti. Nasihat dianggap gangguan. Seolah akal sehat mereka telah tertutup oleh kekuatan yang tak terlihat. Dimakan jin dan syaitan.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Kutukan Kapitalisme

Tentu ini bukan hukuman yang datang tiba-tiba. Sebab musababnya telah lama ditanam dan disemai. Maka, kehancuran ini tidak datang dari luar semata, melainkan lahir dari dalam.

Ujungnya, potret kemiskinan, takdir pengangguran, dan kesenjangan merebak di seluruh nusantara. Perselisihan kecil berubah menjadi perkelahian besar. Pasar, jalan, bahkan tempat ibadah menjadi arena KKN. Warga negara yang dahulu berdiri bahu-membahu bergotong royong, kini saling gotong nyolong.

Pada awal 2026, kisah sukses memenjarakan para koruptor yang tumbuh dari kemarahan mahasiswa, kini menjadi senjata bagi kehancuran yang akan mereka ciptakan sendiri. Kisah ajaib mengamandemen konstitusi, berubah jadi mesin perusak tata negara.

Indonesia malas belajar. Pola lama terus direplikasi: KKN disuburkan, oligarki busuk dilindungi kekuasaan. Tentu, KKN dan oligarki Indonesia bukan penyakit baru, melainkan warisan panjang sejak kolonial yang (sayangnya) menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Tags:
ekonomiYudhie HaryonoEkonomika Pancasila

Tim Poskota

Reporter

Febrian Hafizh Muchtamar

Editor