POSKOTA.CO.ID - Media sosial kembali diramaikan oleh kabar kurang menyenangkan yang menimpa keluarga musisi dan penulis ternama Indonesia, Fiersa Besari.
Sang istri, Aqia Nurfadla, mengalami kecelakaan setelah ditabrak sebuah mobil di kawasan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pada Jumat pagi, 3 Januari 2026.
Peristiwa tersebut pertama kali diketahui publik setelah Fiersa Besari membagikan kronologi kejadian melalui Instagram Story akun pribadinya, @fiersabesari, Unggahan itu sontak memicu empati luas sekaligus diskusi publik mengenai keselamatan pejalan kaki di area publik serta tanggung jawab pengendara.
Baca Juga: Antisipasi Rob Saat Supermoon, DPRD DKI Minta Pemprov Perkuat Mitigasi Bencana
Kronologi Kejadian di Area Stasiun Gambir
Menurut penuturan Fiersa Besari, insiden bermula ketika Aqia Nurfadla hendak melakukan perjalanan liburan menuju Yogyakarta menggunakan kereta api.
Saat itu, Aqia baru saja tiba di Stasiun Gambir menggunakan taksi dan sedang mengeluarkan barang-barang bawaan dari bagasi kendaraan.
Di tengah aktivitas tersebut, sebuah mobil lain yang dikendarai oleh seorang pria lanjut usia tiba-tiba melaju dari belakang dan menabrak Aqia. Benturan tersebut membuat Aqia terkejut dan mengalami cedera akibat trauma fisik.
“Kejadiannya cepat, istri saya sedang fokus menurunkan barang, lalu tiba-tiba tertabrak,” tulis Fiersa dalam unggahannya.
Kondisi Terkini Aqia Nurfadla
Pasca-kejadian, Aqia segera mendapatkan pemeriksaan medis. Berdasarkan hasil evaluasi dokter, tidak ditemukan patah tulang maupun retakan. Namun demikian, dampak tabrakan menyebabkan pembengkakan dan trauma otot, yang memerlukan waktu pemulihan tidak singkat.
Fiersa Besari mengungkapkan bahwa dokter memperkirakan masa pemulihan sang istri berkisar antara tiga hingga enam minggu, tergantung pada respons tubuh terhadap terapi dan istirahat.
“Secara struktural aman, tapi efek trauma ototnya tidak bisa dianggap ringan,” ungkap Fiersa.
Sikap Sopir Lansia Jadi Sorotan
Selain kondisi korban, perhatian publik juga tertuju pada sikap sopir lansia yang menabrak Aqia. Menurut Fiersa Besari, pengemudi yang diperkirakan berusia 60–70 tahun tersebut sempat menilai kondisi Aqia hanya mengalami keseleo dan menawarkan uang sebesar Rp200 ribu sebagai bentuk tanggung jawab.
Tawaran tersebut dinilai tidak sebanding dengan dampak fisik, psikologis, serta kerugian materi yang dialami korban. Sikap itulah yang kemudian memicu kekecewaan dan kemarahan Fiersa Besari, yang merasa keselamatan seseorang tidak dapat direduksi hanya dengan nominal kecil.
Rincian Biaya dan Kerugian
Dalam unggahan lanjutan, Fiersa Besari turut membagikan rincian kerugian finansial akibat insiden tersebut. Berdasarkan potongan struk yang ditampilkan:
Biaya pengobatan/farmasi: Rp2.282.006
Biaya penginapan/hotel: Rp3.636.400
Biaya perjalanan (tiket kereta): Rp1.504.500
Jika ditotal, kerugian yang harus ditanggung mencapai Rp7.422.906, jauh melampaui jumlah uang yang ditawarkan oleh sopir.
Kerugian tersebut belum termasuk beban emosional dan gangguan rencana liburan keluarga, yang sejatinya menjadi momen istirahat dan kebersamaan.
Baca Juga: Viral Penusukan Malam Tahun Baru di Kemang Hingga Kritis, Pelaku Masih Berkeliaran
Laporan Dicabut, Namun Luka Emosional Tertinggal
Fiersa Besari mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mencabut laporan terkait kecelakaan tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pencabutan laporan tidak serta-merta berarti telah memaafkan kejadian itu sepenuhnya.
“Laporan memang sudah dicabut. Tapi, untuk memaafkan, nggak dulu ya,” tulis Fiersa dengan nada reflektif.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa proses pemulihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional sebuah aspek yang kerap luput dari perhatian dalam kasus kecelakaan lalu lintas.
Identitas Sopir Dirahasiakan
Sebagai penutup, Fiersa Besari menegaskan bahwa identitas sopir lansia yang terlibat dalam insiden tersebut tidak akan diungkap ke publik. Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap privasi dan demi menghindari persekusi atau penghakiman sepihak.
Kasus ini menjadi pengingat penting akan perlunya kesadaran berkendara, empati, serta tanggung jawab moral, terutama di ruang publik yang padat aktivitas manusia.