Siapa Sitok Srengenge? Kronologi Kasus yang Menyeret Nama Sal Priadi dan Picu Amarah Netizen

Jumat 02 Jan 2026, 19:25 WIB
Polemik Foto Sal Priadi dan Sitok Srengenge, Publik Soroti Sensitivitas Figur Publik terhadap Isu Kekerasan Seksual (Sumber: Instagram)

Polemik Foto Sal Priadi dan Sitok Srengenge, Publik Soroti Sensitivitas Figur Publik terhadap Isu Kekerasan Seksual (Sumber: Instagram)

Lebih jauh, Sal Priadi menegaskan sikap pribadinya terhadap isu kekerasan seksual. Ia menyatakan tidak membela siapa pun yang terlibat dalam tindakan tersebut. “Kalau ada pihak yang melintir-melintir, itu urusan dia,” tulis Sal, seraya menyebut kejadian ini sebagai pelajaran penting agar lebih berhati-hati di masa depan.

Sitok Srengenge Kasus Apa? Latar Belakang yang Kembali Disorot

Pertanyaan “Sitok Srengenge kasus apa” kembali ramai dicari publik. Kasus ini bermula pada November 2013, ketika seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia berinisial RW melaporkan dugaan pemerkosaan ke Polda Metro Jaya.

Korban mengaku mengalami kehamilan setelah pertemuan yang berkaitan dengan aktivitas akademik dan seni. Pada 6 Oktober 2014, kepolisian menetapkan Sitok Srengenge sebagai tersangka dengan jeratan Pasal 286 KUHP tentang persetubuhan dengan perempuan dalam kondisi tidak berdaya, serta Pasal 294 ayat (2) KUHP terkait perbuatan cabul.

Proses hukum kasus ini berjalan lambat akibat kendala pembuktian dan bolak-baliknya berkas perkara. Meski demikian, tekanan publik berdampak signifikan pada posisi sosial Sitok. Ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kurator Komunitas Salihara dan mengalami penolakan dalam berbagai aktivitas seni.

Baca Juga: KUHP Baru Telah Disahkan, Hidup Bersama dan Perzinaan Bisa Dilaporkan? Ini Mekanisme Pelaporan dan Sanksi

Profil Singkat Sitok Srengenge

Sitok Srengenge, bernama asli Sunarto, lahir pada 22 Agustus 1965. Ia dikenal sebagai sastrawan yang produktif menulis puisi, novel, dan esai, dengan karya yang dimuat di media nasional maupun internasional.

Selain itu, Sitok memiliki latar belakang teater yang kuat. Ia pernah berguru dan magang di kelompok teater Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Teguh Karya, dan W.S. Rendra. Ia juga tercatat sebagai alumni International Writing Program University of Iowa dan Hong Kong Baptist University.

Namun, hingga kini, namanya kerap dijadikan simbol kompleksitas penegakan hukum dalam kasus kekerasan seksual di Indonesia.

Polemik foto Sal Priadi dan Sitok Srengenge menjadi refleksi penting tentang sensitivitas sosial di era digital. Isu kekerasan seksual bukan sekadar perkara hukum, tetapi juga menyangkut empati, trauma korban, dan tanggung jawab moral figur publik.

Diskusi yang muncul memperlihatkan bahwa dunia seni dan hiburan tidak berada di ruang hampa. Setiap gestur, foto, dan narasi memiliki makna sosial yang dapat berdampak luas, terutama bagi mereka yang pernah menjadi korban.


Berita Terkait


News Update