Kondisi rumah warga di RT 15 RW 01, Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, yang bakal dibedah oleh pemerintah. (Sumber: POSKOTA | Foto: Pandi Ramedhan)

JAKARTA RAYA

Pemprov Jakarta Pastikan Program Bedah Rumah di Kelurahan Menteng Berjalan

Selasa 18 Nov 2025, 17:57 WIB

MENTENG, POSKOTA.CO.ID - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan program sosial untuk warga yang rumahnya tidak layak di permukiman padat di Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat, berjalan.

Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) DKI Jakarta, Iqbal Akbarudin mengatakan, sejauh ini program yang diunggulkan untuk membantu warga di Kelurahan Menteng yaitu bedah rumah.

"Bila nanti ada program lanjut kami akan informasikan kembali," kata Iqbal melalui pesan singkat, Selasa, 18 November 2025.

Lurah Menteng, Indrawan Prasetyo mengatakan, program bedah rumah itu berpegangan dengan program bedah rumah dari Baznas.

Sementara, untuk warga yang tinggal di permukiman padat di Kelurahan Menteng, Indrawan memastikan warga sudah mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah.

Baca Juga: 23 Rumah Warga di Permukiman Padat Menteng Tidak Layak Huni

"Kalau untuk individunya rata-rata mereka sudah mendapatkan program sosial, seperti beberapa kartu bantuan sosial dari Pemprov maupun Kemensos," jelas dia.

Rumah Dibedah, Warga Semringah

Muhammad Sapri, 85 tahun, yang tampak sudah sangat sepuh hanya bisa duduk sambil menonton televisi yang begitu jadul dan kuno di rumahnya yang berlokasi di permukiman padat RW 01 Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 18 November 2025.

Siang tadi, hujan melanda wilayah Jakarta termasuk melanda permukiman di wilayah rumah Sapri.

Delapan orang di rumah itu sedang berkumpul di ruang tamu yang tidak terkena air hujan akibat atap-atap rumah yang sudah bocor.

Setiap kali hujan turun, rumah itu berubah menjadi arena perjuangan tersendiri. Tetesan air dari atap yang bocor akan berjatuhan di berbagai sudut ruangan.

Dengan sigap, keluarga tersebut mengeluarkan ember, baskom, hingga panci untuk menampung air yang masuk.

Ember-ember itu berjejer di ruang tamu, sudut dapur, hingga dekat tempat tidur, seperti penjaga kecil yang setia menghadang rembesan dari langit.

"Ya, kondisinya begini, kalau saya pensiunan udah enggak bisa ngapa-ngapain," kata Sapri yang nada bicaranya sudah terdengar rentan itu saat ditemui di rumahnya.

Rudi P, 63 tahun, mengatakan, di rumah dengan dua kamar tidur ini terdapat 10 orang yang tinggal terdiri dari dia, istri, anak, kedua orangtuanya, mantu, dan juga cucu.

Baca Juga: Kebakaran Hanguskan 3 Rumah di Permukiman Padat Tambora, 18 Mobil Damkar Dikerahkan

Pria pekerja serabutan ini mengatakan, rumah orangtua yang dia tempati itu merupakan satu-satunya rumah milik keluarga itu. Ia sangat bersyukur karena rumah itu bakal dibedah oleh pemerintah.

"Pas tau mau dibedah ya kami sangat alhamdulillah. Kami udah enggak sanggup kalau harus renovasi rumah," kata Rudi.

Rudi menyampaikan, biasanya ketika rumah sedang bocor, dirinya hanya melakukan perbaikan yang bersifat tidak permanen. Ketika hujan datang, bahkan perbaikan yang telah dilakukan kembali bocor.

"Karena biasanya cuma saya tambal aja. Jadi misalnya bocor bagian dapur, ya paling cuma diakalin aja, jadi bukan diperbaiki," tutur dia.

Kondisi rumah Sapri dan istrinya, Rukmini 82 tahun pasangan lansia ini sangat memprihatinkan. Bahkan ketika hujan seperti hari ini, keluarga di rumah ini mencari tempat yang atapnya tidak rembes air.

Plafon pada rumah satu lantai ini terlihat kondisinya sudah mau ambruk. Rumah mayoritas terbuat dari ornamen kayu itu seharusnya bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi Sapri dan Rukmini yang sudah sepuh itu.

Dengan nada bicara yang sudah gemetar, Rukmini menceritakan jika hujan turun, ia pasti mengabarkan suami untuk berpindah tempat dari kamarnya yang bocor dan rembes itu.

"Saya suruh pindah, takutnya dari atas jebol juga kan. Saya aja pernah lagi tidur dari atas itu kayak ada pasir ke muka saya," ungkap dia.

Meski demikian, kehangatan keluarga itu tidak pernah pudar. Di tengah ruangan yang sempit dan remang, mereka berbagi cerita, tawa, dan harapan.

Baca Juga: Kebakaran Lahap Rumah di Permukiman Padat Tambora, Warga Panik

Rukmini menyampaikan bahwa hari ini, dirinya hanya memasak nasi dan lauknya dibeli dari luar. Lauk yang dibeli pun sebisa mungkin diatur agar delapan orang di rumah itu kebagian.

"Cuma ngandelin uang pensiunan dari suami, jadi uangnya ya buat beli makan sehari-hari aja. Bansos alhamdulillah masih dapat, sembako," tuturnya.

Di rumah itu sebetulnya ada seorang lelaki yaitu anak dari Rudi. Namun, sang anak yang kini berusia 34 tahun itu, ternyata mengalami depresi hingga gangguan mental sejak remaja.

Anaknya terlihat tidur hanya beralaskan kardus di salah satu kamar yang terlihat sangat berantakan dengan barang-barang. Begitu juga dengan satu kamar tidur di sebelahnya yang juga berantakan.

"Kalau memang rumah sudah selesai direnovasi, saya pasti akan betul-betul merawat," ucap Rudi.

Tags:
bedah rumahrutilahupermukiman padatJakartaMentengpadat penduduk

Pandi Ramedhan

Reporter

Mohamad Taufik

Editor