BANDUNG, POSKOTA.CO.ID - Air di sejumlah titik Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat mulai mengalami penyusutan. Untuk bertahan hidup, para petani ikan memanfaatkan lahan yang kering itu menjadi lahan pertanian musiman.
Selain komoditas sayuran, di area waduk yang kering, ada pula yang memanfaatkan lahan untuk menanam padi.
Salah seorang petani yang memanfaatkan lahan kering tersebut yakni, Eji Suhari (65), warga RT 02/07, Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar.
Ia memanfaatkan lahan Waduk Saguling itu untuk menanam padi. Bahkan, diakuinya, acap kali memasuki musim kemarau, tak sedikit warga sekitar yang memanfaatkan kondisi tersebut.
"Kalau tidak dimanfaatkan sayang. Soalnya bisa nambah-nambah penghasilan sekaligus kebutuhan rumah tangga," kata Eji.
Sepanjang musim kemarau ini, kata dia, penurunan muka air Waduk Saguling mencapai 10 hingga 15 meter. Penyusutan langsung dimanfaatkan warga untuk bertani.
Hasil bertani di tepian waduk ini biasanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Rata-rata, warga yang memanfaatkan lahan kering di area waduk, mereka menanam mentimun, jagung, ubi dan cabai. Ketimbang menanam komoditas sayuran, ia lebih memilih menanam padi walaupun risiko gagal panen cukup besar.
"Saya pilih tanam padi saja. Lumayan kalau panen bisa hasil tiga sampai empat karung. Ya 80 kilo mah ada. Itu kan nggak dijual, buat sendiri aja," ungkapnya.
Sementara itu, petani lainnya yang juga memilih menanam padi di lahan kering yakni, Onang Hidayat (71), ia sudah mengetahui kalau menanam padi di area waduk sangatlah berisiko.
Kata dia, risikonya ketika air di area waduk mulai mengalami peningkatan atau pasang. Tanaman padi pun akan alami gagal panen.
