Spirit ASEAN

Senin 08 Agu 2022, 07:14 WIB

Perlu meningkatkan bobot Indonesia melalui performance diplomasi internasional baik di bidang politik, ekonomi dan keamanan. Perlu keunggulan para elite dalam menjalin komunikasi,” - Harmoko
 
Dulu, Indonesia pernah dipresentasikan sebagai “Macan Asia” karena memiliki kejayaan dari sisi politik, ekonomi dan kebudayaan di kawasan Asia. Negeri kita juga dikenal dengan sebutan “ The Big Brother” – kakak tertua yang dihormati di kawasan ASEAN. Sebutan ini tak lepas karena kondisi ekonominya, politik dan kekuatan militernya. Lantas bagaimana dengan sekarang? Jawabnya tentu akan beragam.

Pertanyaan ini bukan untuk membandingkan dulu dan sekarang , tetapi sebagai bentuk renungan kita bersama, bagaimana peran Indonesia di kawasan ASEAN (Association of Southeast Asian Nations).

ASEAN yang merupakan organisasi ekonomi dan geopolitik khusus untuk negara – negara di wilayah Asia Tenggara, hari ini genap berusia 55 tahun, sejak didirikan 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand – dikenal dengan Deklarasi Bangkok.

Saat dideklarasikan, ASEAN beranggotakan 5 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand. Kini menjadi 10 negara dengan bergabungnya 5 negara lain, yaitu Brunei Darussalam (8 Januari 1984), Vietnam (28 Juli 1995), Laos (23 Juli 1997), Myanmar (23 Juli 1997) dan Kamboja (30 April 1999).

Organisasi dibentuk karena dilatari oleh kesamaan geografis, budaya, kepentingan dan nasib. Dengan slogan “One Vision. One Identity. One Community” melahirkan lima spirit ASEAN, dua di antaranya mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan. Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional. Selebihnya meningkatkan kerja sama di berbagai bidang.

Spirit ini hendaknya jangan sampai terabaikan, siapapun kepala negara yang tengah berkuasa. Sejak kelahirannya, Indonesia memiliki peran penting, setiap rumusan yang diusulkan sering dijadikan rujukan untuk mengambil keputusan. Tak hanya usulan, juga langkah konkret dalam perdamaian. Tak hanya sebagai mediator, juga terjun langsung ke medan pertikaian.

Sebut saja mendinginkan suasana konflik Malaysia – Filipina. Mendamaikan  konflik Vietnam –Kamboja. Mediator perjanjian damai Moro National Liberation  Front (MNLF- Filipina). Juga berperan selesaikan konflik di konflik Myanmar dan Thailand.

Di bidang ekonomi, misalnya pemrakarsa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), pelopor dan pendiri ASEAN  Free Trade Area(AFTA). Di bidang keamanan, pencetus berdirinya Komunitas Politik – Keamanan ASEAN dana masih banyak lagi peran lainnya, termasuk kerjasama di bidang pendidikan dan pertanian.

Kita tentu berharap, Indonesia kembali berjasa di ASEAN. Daya saing yang rendah di kawasan ASEAN, di bawah Malaysia harus ditingkatkan. Tak perlu ragu, jika kita harus mengadopsi negeri lain yang memiliki daya saing tinggi di sektor ekonomi dan sumber daya manusia. Tak perlu malu, meski dulu negara tersebut pernah belajar dari kita.

Peningkatan citra Indonesia di mata internasional dapat ditempuh melalui keaktifannya dalam menciptakan stabilitas regional Asia Tenggara. Tak kalah pentingnya meningkatkan bobot Indonesia melalui performance diplomasi internasional baik di bidang politik, ekonomi dan keamanan.

Diperlukan kemampuan para elite negeri kita menjalin komunikasi penuh persahabatan dengan elite negara lain, baik di lingkup regional maupun internasional, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Sejatinya para elite negeri kita memiliki modal dasar sebagai keunggulan dalam berkomunikasi dan berdiplomasi. Kesopanan dan keramahtamahan sebagai jati diri bangsa, menjadi keunggulan tersendiri, yang jarang dimiliki bangsa lain. Belum lagi keunggulan di bidang sumber daya alam, dan adat budaya bangsa.

Keunggulan – keunggulan itulah yang mesti dikemas sedemikian rupa guna meningkatkan bobot negeri kita, meningkatkan daya saing dengan negara tetangga khususnya. Itulah pekerjaan rumah yang menuntut segera dituntaskan.

Kepentingan nasional di atas segalanya, tetapi tidak lantas mengabaikan kepentingan kawasan. Bukankah sejak negeri ini didirikan sudah tersurat, “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,” sebagaimana terangkum dalam Pembukaan UUD 1945.

Ini merujuk kepada filosofi hidup harus memberikan nilai tambah, manfaat bagi lingkungan. “Urip iku urup”. Setiap warga kepada sekitarnya. Lebih luas lagi, negara dengan negara lainnya. Tentu dengan tidak mengorbankan jati diri bangsa. ( Azisoko )


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Berkepribadian Indonesia

Senin 22 Agu 2022, 06:15 WIB

News Update