JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Ketahanan merek (brand resilience) merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan seberapa kuat merek dapat menahan tekanan eksternal melalui masa-masa sulit dari waktu ke waktu.
Tidak terkecuali perusahaan-perusahaan FMCG, Manufaktur, Jasa, Kreatif, Start-Up, dan lain-lain, harus berjuang agar merek mereka tetap dapat beroperasi.
Di era digital, penting untuk sebuah brand tetap mempertahankan citra baik yang sudah dibangun. Ulasan online, media sosial, dan persaingan yang semakin ketat membuat segala sesuatunya bisa salah dengan cepat, dengan masalah apa pun yang semakin parah.
Menyadari hal itu, ada bebera tips menghadapi brand resilience. Ada beberapa tantangan dunia yang harus dihadapi oleh perusahaan saat ini. Di antaranya adalah volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity.
Tantangan ini menjadi perhatian di bidang marketing terutama pada era digital selama pandemi. Covid-19 selama dua tahun terakhir telah mendorong semua kalangan untuk merubah strategi bisnis yang sudah dibuat.
Jika dilakukan dengan tepat, tantangan yang ada bisa menjadi sebuah peluang besar yang menguntungkan. Sebuah perusahaan tidak hanya dapat bertahan dalam sesuatu yang tidak pasti, namun juga dapat tumbuh berkembang dari sebelumnya.
“Perusahaan mau tidak mau harus dapat beradaptasi dan mencoba hal baru, keluar dari zona nyaman, tidak bisa sekedar menunggu hal yang menurut kita sesuai. Dalam menghadapi sebuah krisis, kita harus cepat beradaptasi dengan menyeimbangkan strategi bisnis untuk jangka pendek dan jangka panjang,” ucap David Christ selaku Chief Executive Officer Argo Asia dalam webinar BINUS Resilience Hub.
Ada tiga pilar penting yang dapat dilakukan sebuah merek agar mampu cepat beradaptasi serta menghadapi situasi krisis yakni belief, strategy, dan experience. Brand harus memiliki kesamaan keyakinan antara apa yang pelanggan inginkan dengan apa yang ditawarkan, jika tidak sebuah brand akan kehilangan pelanggan setianya.
Untuk memahami itu, perlu didukung strategi yang tepat dengan memfokuskan kepada situasi yang sedang terjadi di masyarakat. Dalam menjawab situasi itulah brand harus memberikan experience yang dikemas ke dalam komunikasi dan narasi produk untuk menjawab keinginan pelanggan.
Brand resilience juga dapat dibangun melalui hubungan pelanggan yang kuat. Hubungan ini dapat dikembangkan dari waktu ke waktu. Sebuah brand yang memiliki hubungan pelanggan yang kuat melalui umpan balik, ulasan, saran, dan bahkan keluhan, tentu memiliki dampak yang positif, termasuk loyalitas merek dan peningkatan penjualan.
“Ketika menghadapi suatu krisis, kita perlu mengalihkan rencana bisnis ke sales activity. Misalnya, memaksimalkan produk yang mereka tawarkan dengan memberikan consumer promo di e-commerce. Dengan adanya promo yang diberikan sebuah brand tentunya akan meningkatkan sales sehingga brand dapat bertahan dalam situasi yang tidak pasti,” tutupnya. (*/deny)
