Hasto dan Kisah Asmara Dewa

Minggu 12 Des 2021, 07:00 WIB

AWAL Desember 2021, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengundang kami (Azisoko, Sucipto, Rikard Bagun, Ciamik dan Mariza Hamid) untuk menghadiri pertunjukan wayang orang di gedung pertunjukan wayang orang, Pasar Senin, Jakarta Pusat. 

Lakon wayang orang ini berjudul Cupu Manik Astagina yang dipentaskan oleh Paguyuban Wayang Orang Bharata dan Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDI Perjuangan. Lakon Cupu Manik Astagina ini digagas oleh Hasto Kristiyanto bersama Ketua BKN Pusat PDI Perjuangan Aria Bima dan Sekretaris BKN Pusat PDI Perjuangan Rano Karno. 

Sebelumnya ketiga tokoh PDI Perjuangan ini telah menyelenggarakan ketoprak Gajah Mada di tempat yang sama. Usaha ini untuk menghidupkan, memelihara, merawat dan melestarikan  seni budaya tradisional Nusantara atau boleh disebut menegakkan kepribadian nasional bidang kebudayaan.

Pentas Cupu Manik Astagina ini menarik karena, antara lain berkisah tentang asmara segi empat dua  dewa di kayangan dan seorang resi  dengan sosok Dewi Indradi. Sebelum menikah dengan Resi Gotama yang sakit, Dewi Indradi telah berasmara dengan Dewa Surya dan Dewa Indra. 

Dewa Surya memberi kenangan kepada Dewi Indradi berupa sebuah cupu manik  serupa bokor kecil bersegi delapan yang indah. Kosa kata manik berarti berlian mutu manikam. Asta dari kata Hasta adalah angka delapan. Astagina adalah  delapan ajaran keutamaan hidup (iman, adil, sederhana, asih-asah-asuh, jiwa besar, semangat kreatitivitas, teguh/berani berkorban, pengabdian tanpa pamrih). Cupu manik astagina ini adalah delapan keutamaan yang dibungkus oleh kemilaunya permata mutu manikam. 

 

Ilustrasi. (ucha)

Suami istri Resi Gotama dan Dewi Indradi punya anak, Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa. Ketiga anak ini memperebutkan cupu manik tersebut. Terjadilah perselisihan, perkelahian, rasa cemburu, keinginan saling mengalahkan dan menguasai. Dalam kehidupan di dunia ini adalah ramuan antara yang baik dan buruk, antara kesucian dan dosa, antara cinta dan pengkhianatan serta perselingkuhan. Tiada kesempurnaan mutlak. 

Menurut Sekjen PDI Perjuangan Hasto,  wayang adalah ritual kehidupan. Apa yang terjadi dalam wayang adalah cermin kehidupan , perjuangan untuk meraih kebenaran melewati angkara murka. Cerita Cupu Manik Astagina melukiskan falsafah dasar kosmologi Jawa tentang realitas jagat gede (makrokosmos) dan jagat cilik (mikrokosmos). Keduanya punya tatanan sendiri sendiri dalam kesimbangan hukum alam. 

Namun, kata Hasto, ketika keduanya menyatu dalam nafsu duniawi, seperti dalam peristiwa terlibat dalam asmara antara Dewi Indradi dan Batara (Dewa) Surya, maka terjadilah ketidakseimbangan yang menciptakan kekacauan.

Manusia, menurut kontemplasi Hasto Kristiyanto, punya keterbatasan dalam memahami seluruh alam semesta. Usaha menguasai Cupu Manik Astagina tanpa melalui perjuangan, olah batin dan kerendahan seperti dilakukan Anjani, Sugriwa dan Subali, hanyalah menciptakan kesengsaraan. Di sini manusia jatuh dalam nafsu hewani.

Maka, ujar Hasto, perlu kesadaran bertobat bahwa dirinya berdosa, matiraga, olahbatin...... Di sini Pencipta akan hadir ntuk kehidupan baru. Maka berhati-hatilah berasmara walaupun itu dengan para dewa dari kayangan. Bisa kacau dan sengsara. (Ciamik)
 


Berita Terkait


undefined
Opini

Jalesveva Jayamahe 

Sabtu 18 Des 2021, 07:00 WIB
undefined
Opini

Presidential Threshold

Sabtu 29 Jan 2022, 07:00 WIB
undefined
Opini

Imajinasi Geopolitik Sukarno

Sabtu 12 Feb 2022, 07:00 WIB

News Update