Pada hari itu juga, Almarhum mendapatkan rumah sakit dengan peralatan jantung paling lengkap, yakni RSUD Jayapura.
Hal tersebut karena kesigapan seluruh pihak yang menangani Almarhum.
“Pertama dibawa ke RS Bhayangkara. Hanya dicek, karena gejala jantung maka langsung dirujuk ke RSUD Abepura.
“Dilihat kondisi jantungnya, karena ada serangan langsung dirujuk kembali ke RSUD Kota Jayapura. Di RSUD Kota Jayapura, langsung diambil tindakan Febrinolitik,” jelas Wahyu.
Wahyu juga menjelaskan bahwa pada tanggal 5 Oktober, kondisi Wim Salim sempat normal namun keesokan harinya terjadi serangan jantung kedua.
“Kesadaran sudah terlihat menurun, diambil tindakan pemasangan ventilator,” lanjut Wahyu.
Sehari berselang, kondisi tensi dan nadi normal namun satu hari berikutnya, yakni pada tanggal 8 Oktober 2021, kondisi mulai menurun hingga akhirnya Wim Salim meninggal dunia pada pukul 23:35 WIT.
“Meninggal itu takdir, tapi penanganan sudah maksimal banget,” tambah Djoko.
“Penanganan yang diberikan sudah maksimal, namun nyawa tidak tertolong. Rekan-rekan dari PB.PON, SDM semuanya support, jadi semuanya bisa tertangani,” imbuhnya.
Pada 9 Oktober 2021 pukul 15:30 WIT, jenazah Almarhum telah diberangkatkan ke Surabaya.
Video: Pameran Mobil Antik di JIExpo Kemayoran (youtube/poskota tv)
Almarhum dikabarkan meninggalkan pesan terkait penyelenggaraan PON XX.
“Pesan terakhir dari Almarhum adalah, beliau ingin semua terus bersemangat menyelesaikan cabang olahraga Paralayang,” kata Ketua Panitia Pelaksana Cabang Olahraga Paralayang Tonny Ananda.
