“Pelaksanaan ini nunggu penyertaan modal sesuai komitmennya pemerintah daerah. Harusnya sekarang kita sudah bisa launching beras Banten,” ungkapnya.
Lebih lanjut dipaparkan Ilham, melalui setoran modal Rp65 miliar dengan jadwal pencairan awal tahun ini, sebenarnya PT ABM menargetkan bisa mencatatkan omzet sebesar Rp44 miliar di 2021.
“Kalau kita target omzet Rp44 miliar, kalau untuk untung lihat dari biaya operasional dan lain. Makannya patokannya target omzet,” tuturnya.
Ilham menegaskan, saat ini untuk operasional pihaknya masih mengandalkan setoran modal di 2020 senilai Rp10 miliar.
Ia berharap, modal baru di tahun ini bisa segera masuk agar modal yang sudah ada tidak terus tergerus.
“Pos operasionalnya terus berjalan tetapi investasi bisnisnya belum bisa dilakukan. Kayak begini, lebih gampang mana kelola uang yang sedikit atau yang banyak? Kita operasional terus jalan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Banten Rina Dewiyanti mengaku belum mengetahui pasti persoalan apa yang membuat penyertaan modal ke PT ABM terhambat.
Ia menegaskan, setoran modal untuk perusahaan plat merah itu tidak termasuk dalam skema pinjaman daerah ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Adapun proses pencairan modalnya akan didistribusikan sekaligus atau tanpa dicicil.
“Bukan dari SMI, nanti saya cek ke bidang masalahnya di mana,” tegasnya. (kontributor banten/luthfillah)
