(4) Sinyal tidak stabil sehingga menjadi kendala PJJ sebanyak 5,8%
(5) Lainnya sebanyak 8,9% . Yang mengisi lainnya antara lain menyebutkan bahwa wilayah responden mengajar merupakan wilayah kepulauan yang masuk zona hijau/kuning.
Baca juga: SMK Ujicoba Belajar Tatap Muka, Berikut Sejumlah Rekomendasi KPAI
"Para guru merasakan bahwa peserta didiknya pasti mengalami kesulitan untuk mengerjakan mate pelajaran dengan tingkat kesulitan tinggi, karena materi seperti itu tidak optimal diberikan secara daring, tetapi harus melalui pembelajaran tatap muka, minimal seminggu sekali," ujar Mansur, Wakil Sekjen FSGI menimpali.
Jumlah responden yang menyatakan tidak setuju sebesar 2948 orang. Adapun alasan responden yang menyatakan tidak setuju sekolah tatap muka di buka pada Januari 2021, yaitu :
(1) Kasus covid 19 masih tinggi sebesar 40,70% ;
(2) Khawatir tertular covid 19 di sekolah sebesar 27,74%
(3) Sudah berusia di atas 50 tahun ditambah penyakit penyerta sebesar 10,44%
Baca juga: Pandemi Corona Meningkat, Wali Kota Serang Kembali Tutup Belajar Tatap Muka
(4) Infrastruktur dan protocol kesehatan/SOP Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di sekolahnya belum memadai sebesar 14,31 %
(5) Lainnya sebesar 6,8% , Jawaban lainnya diantaranya adalah belum ada sosialisasi protocol kesehatan dari pihak sekolah dan Tidak memiliki kendaraan pribadi, sehingga harus naik angkutan umum yang rentan tertular covid
"Mayoritas responden memang menolak buka sekolah tatap muka karena masih tinggi kasus, pandemic belum dapat dikendalikan pemerintah, sehingga mereka sangat khawatir tertular covid 19, apalagi untuk guru-guru yang usianya sudah lebih dari 50 tahun dan disertai pula dengan penyakit penyerta seperti diabetes, jantung dan lain-lain," pungkas Heru. (rizal/tri)
