Menjadi Polisi karena Dendam Sama Bandit

Senin 12 Nov 2018, 07:27 WIB

KARANGAN bunga ucapan selamat dan sukses sebagai kapolsek, masih berdiri tegak di halaman Mapolsek Johar Baru. Beberapa kerabat masih berdatangan memberikan ucapan selamat. Tiba-tiba, anggotanya mengetuk ruang kerjanya dan memberi tahu adanya penjambretan. Persitiwa ‘365’ menjadi viral di media sosial. Dalam video itu, seorang ibu rumah tangga dijambert dua bandit boncengan motor yang kabur menggasak tasnya. Bergegas Kompol Enday Mahandika yang baru sehari dilantik menjadi kapolsek pamit kepada tamunya. Dia mengajak anggota Unit Reskrim mencari dua bandit jalanan tersebut. Berbekal video viral itu, Kompol Enday dan anggotanya melacak keberadaan pelaku kejahatan itu. Dari ciri-cirinya, diyakini kedua penjahat itu masih berada di wilayah ‘kekuasan’ barunya. Bersama anggotanya, dia keluar masuk gang sempit di kawasan Johar Baru mencari kedua bajingan tersebut. Selama sembilan jam, mereka menyelusuri wilayah ini. “Hei! Berhenti! Jangan lari,” teriak Enday setelah melihat seorang pemuda yang persis dengan ciri-ciri penjahat yang diburunya. Anak buahnya kaget. Dor! Dor! Dor! Tiga tembakan peringatan dilepaskan anggotanya. Bandit ini pun menghentikan langkah kakinya, sambil kedua tangannya diletakkan di kepalanya. Penjahat yang diketahui bernama Racky, 23, diseret ke komando lalu diitnerogasi. Penjahat ini mengakui menjabmret tas ibu rumah yang terekam di vedo viral tersebut. Bandit jalanan ini pun dibawa mencari temannya. Tanpa banyak kesulitan rekannya, Luci Aftal alias Boke, 25, yang ikut menjabret diciduk. “Alahamdulillah, lega rasanya. Tantangan pertama berhasil dilalui. Ini pertama kalinya saya menjabat kapolsek, tapi sudah disuguhi tindak kejahatan yang bikin resah masyarakat,” ucap Kompol Enday. DENDAM Pria kelahiran Bangka Belitung lulusan diploma tiga Akademi Aeronautika Dirgantara Bandung (AADB) 2003 ini mengaku, masuk polisi karena dendam dengan pelaku kriminal. ‘Saat mahasiswa saya ditodong, uang kuliah selama enam bulan digasak penjahat,” kenangnya. Sejak itu dia beralih ingin menjadi polisi. Lulusan dari AADB dia tak melanjutkan program sarjana Aeronautika, tetapi masuk polisi lewat pendidikan PPSS (Perwira Polri Sumber Sarjana). Usai pendidikan, ditempatkan di Derektorat Polisi Udara Korps Airud Pondok Cabe, Tangsel. Dua tahun kemudian menjadi ajudan Gubernur Lemhanas, kemudian ajudan Menteri Luar Negeri, sebelum menjabat Kasubag Provos Polres Jakarta Pusat. Akhir Oktober lalu dia dilantik menjadi Kapolsek Johar Baru. “Meski sudah hafal betul karatristik masyarakat Johar Baru, saya harus sowan ke semua lapisan warga termasuk ke koramil dan kecamatan melakukan pendakatan. Maklum kawasan ini dikenal wilayah ‘merah’ tawuran,” katanya. ZERO TAWURAN Menurutnya, kawaasan merah tawuran antarwarga ini, belakangan ini cenderung adem ayem. Tak ada lagi suara senapan angin, lemparan batu dan teriakan saling tantang untuk tawuran. “Kondisi kondusif seperti ini salah satunya berkat kerja keras kapolsek sebelumnya. Menjadi tugas saya meneruskan. Tagret saya kawasan ini harus zero tawuran selamanya,” ucapnya. Dia optimis mampu menciptakannya. Salah satunya melibatkan masyarakat menjaga lingkungan menangani berbagai masalah, mulai tindak kriminal, sosial, dan ekonomi. “Saya akan mengajak warga Johar Baru bergandengan tangan menjaga Kamtibmas, tanpa memandang status sosial. Insya Allah, Johar Baru zero tawuran,” tandasnya. (silaen/iw)

News Update