KITA semua terus saja disuguhi tontonan lawak. Kita pernah menyaksikan kelompok Srimulat yang menginspirasi humoris-humoris muda. Mereka disebut sebagai pelawak tidak jadi masalah, karena mereka memang melawak dari hati, dihayati, dan ditekuni, meresap dalam pribadi mereka. Lain dengan mereka, pelawak-pelawak muda sekarang tidak mau disebut pelawak. Mereka minta disebut komedian, supaya keren, supaya modern, meski tidak lucu. Lagi pula, _cengengas-cengenges_ di kaca TV sekadar cari peluang mengumpulkan harta, lalu boleh sesukanya lantas _goodbye_ dunia lawak. Siapa peduli? Nah, lawakan sesungguhnya bisa muncul dari segala aspek kehidupan manusia, baik sebagai pribadi maupun dalam masyarakat. Yang paling lucu jelaslah lawakan politik. Ini lagi tren. Jumlahnya bertumpuk-tumpuk di media massa. Tentu saja karena terlalu banyak maka malah jadi sampah, bikin sesak ruang dan pikiran. Kita lantas lupa tugas kita untuk menghidupi keluarga. Mereka lucu-lucu. Ada yang memancing-mancing di air keruh, begitu ada yang menyambar lalu _jejingkrakan_ kegelian macam Putri Salju dilibet ular sanca di kakinya. Tengok, misalnya, bagaimana ada kelompok yang ingin mempertahankan kekuasaan sampai harus melakukan ini dan itu, membuat pengaruh dengan mengerahkan para kaki tangannya di mana-mana. Perubahan zaman yang begitu cepat, yang membuat penguasa siapa saja harus bersiap-siap mundur pada waktu yang tepat bagi rakyat, ternyata belum tentu tepat bagi dirinya, apalagi kroni dan kelompoknya. Benar kata banyak orang, berkuasa itu candu. Tetapi, ingat presiden pertama AS, George Washington, yang hendak dipilih lagi setelah menyelesaikan masa tugas pertamanya, dia menolak. “Kalau saya mau dipilih keduakalinya, maka saya ingin ketigakalinya. Kalau saya mau pilih ketigakalinya, maka mau keempatkalinya,” katanya. Jadi, Pak George berhenti jadi presiden dan namanya tetap harum di sepanjang masa. Dengan pendapatnya itu, ia menegaskan bahwa dirinya betul-betul tidak sedang melawak. Iya, kekuasaan itu candu terbesar, hingga membuat orang kepingin berkuasa terus. Kemudian diumumkanlah hal-hal lucu. Muncul pengumuman lucu yang pertama, disusul dengan dagelan berikutnya. Mereka lupa, ini soal negara. Bukan panggung dagelan. (*)
Dagelan
Senin 05 Feb 2018, 07:27 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
Rencana Kenaikan Tarif Transjabodetabek, DPRD DKI Minta Tetap Terjangkau
Sabtu 13 Jun 2026, 20:19 WIB
JAKARTA RAYA
Komisi B DPRD DKI Minta Wacana Kenaikan Tarif Transjakarta Dikaji Ulang
13 Jun 2026, 20:15 WIB
JAKARTA RAYA
Warga Jakarta Minta Rencana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Diimbangi dengan Peningkatan Sarana-Prasarana
13 Jun 2026, 20:10 WIB
JAKARTA RAYA
Tarif Transjabodetabek Bakal Naik, Pengamat: Pemda Harus Siapkan Angkutan Feeder
13 Jun 2026, 19:53 WIB
JAKARTA RAYA
Polisi Gerebek 2 Lokasi Perjudian Berkedok Time Zone Jakut dan Jakbar, Lebih dari 60 Orang Ditangkap
13 Jun 2026, 19:32 WIB
TEKNO
Seberapa Bagus Performa Xiaomi 17T, Worth It untuk Upgrade? Simak Review Lengkapnya
13 Jun 2026, 18:57 WIB
Nasional
Idrus Marham Sebut Mahasiswa dan Prabowo Punya Semangat Bangun Ekonomi Bangsa
13 Jun 2026, 18:45 WIB
EKONOMI
BNI Raih 7 Penghargaan Internasional, Perkuat Layanan Transaction Banking
13 Jun 2026, 14:40 WIB
Nasional
Wajib Tahu! Ini Daftar Layanan Kesehatan yang Tidak Dijamin BPJS Kesehatan
13 Jun 2026, 12:56 WIB
OTOMOTIF
BYD M6 DM Resmi Meluncur di Indonesia, Simak Harga Lengkap dan Keunggulannya
13 Jun 2026, 11:15 WIB
OTOMOTIF
IPONE Ramaikan BBQ Ride 2026 Bandung, Siapkan Merchandise Eksklusif untuk Pengunjung
13 Jun 2026, 10:30 WIB
OTOMOTIF
BBQ Ride 2026 Jadi Ajang Motul Dekat dengan Komunitas Custom Culture, Ada Promo Menarik
13 Jun 2026, 09:59 WIB
EKONOMI
Harga Emas Perhiasan 24K Kembali Menguat Hari Ini 13 Juni 2026, Dijual Mulai Rp2,2 Jutaan
13 Jun 2026, 06:41 WIB