Terkait kendala pembangunan, Kent mengungkapkan, bahwa kontraktor sempat mengeluhkan keterbatasan ruang kerja di lokasi proyek. Namun, berdasarkan hasil peninjauannya, tidak ditemukan kendala signifikan yang berpotensi menghambat penyelesaian pembangunan.
Kent juga menilai kemacetan di sekitar lokasi proyek mulai terurai dalam beberapa waktu terakhir.
“Kendala yang dihadapi itu kontur yang terlalu sempit, tapi sampai detik ini saya lihat tidak ada masalah yang signifikan ya. Lalu, yang sempat dikeluhkan itu macet, tapi kita lihat belakangan ini sudah mulai terurai lah macetnya,” jelasnya.
Selain untuk mengurai kemacetan, Flyover Latumenten juga akan dilengkapi fasilitas publik guna menunjang mobilitas masyarakat.
Fasilitas tersebut meliputi halte TransJakarta dan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang dilengkapi empat unit lift untuk memudahkan akses, termasuk bagi penyandang disabilitas.
Dengan progres pembangunan yang telah mencapai 83 persen, Kent berharap Flyover Latumenten dapat rampung pada Desember 2026 dan mulai beroperasi pada Januari 2027.
Ia menegaskan, pengawasan akan terus dilakukan untuk memastikan proyek berjalan sesuai target dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat Jakarta Barat.
Baca Juga: DPRD DKI Buka Suara Soal Kunci Pengurangan Sampah Jakarta Sebut Pilah dari Rumah, Jangan Cuma Diolah
"Saya akan terus mengawal pembangunan Flyover Latumenten tersebut agar bisa selesai tepat waktu dan dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat. Dan saya berharap proyek tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi warga, terutama dalam mengurangi kemacetan akibat perlintasan sebidang kereta api di kawasan Latumenten, Jakarta Barat ini," ucapnya.
Sementara itu, Camat Grogol Petamburan, Raditian Ramajaya, mengatakan bahwa masyarakat telah lama menantikan penyelesaian pembangunan Flyover Latumenten tersebut.
Keberadaan flyover tersebut dinilai sangat penting karena perlintasan sebidang kereta api di kawasan itu kerap menghambat aktivitas warga dan memicu kemacetan panjang.
