MUI Kritik Ceramah Habib Alwi Assegaf yang Dinilai Merendahkan Perempuan

Selasa 20 Okt 2026, 20:28 WIB
KH M Cholil Nafis menyoroti pentingnya etika berdakwah setelah potongan video ceramah yang dinilai merendahkan perempuan ramai diperbincangkan di media sosial. (Sumber: MUI)
KH M Cholil Nafis menyoroti pentingnya etika berdakwah setelah potongan video ceramah yang dinilai merendahkan perempuan ramai diperbincangkan di media sosial. (Sumber: MUI)

POSKOTA.CO.ID - Jagat media sosial diramaikan oleh potongan video ceramah yang menuai kritik karena memuat pernyataan bernada merendahkan perempuan. Polemik tersebut turut mendapat perhatian Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, yang mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berdakwah.

Melalui akun X pribadinya, Cholil Nafis menyampaikan keberatan terhadap isi ceramah tersebut. Ia bahkan meminta masyarakat untuk tidak lagi mengundang maupun menghadiri majelis penceramah yang dinilai menyampaikan materi tidak pantas.

“Soare-sodare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya,” tulis Cholil Nafis melalui akun X miliknya dikutip Selasa, 20 Oktober 2026.

Pernyataan itu kemudian menjadi perhatian publik, terutama karena ceramah keagamaan semestinya memberikan pendidikan dan keteladanan, bukan justru memicu kontroversi akibat ucapan yang merendahkan kelompok tertentu.

Baca Juga: Polisi Selidiki Cara Aktivis Greenpeace Naik ke Patung Bundaran HI

Isi Ceramah yang Memicu Kritik Cholil Nafis

Polemik bermula ketika potongan video ceramah beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, penceramah membahas honorarium yang diterimanya saat mengisi acara keagamaan. Ia mengklaim tarif terendahnya mencapai Rp75 juta, yang disambut tawa sejumlah jamaah.

Namun, perhatian publik kemudian beralih pada pernyataan yang dilontarkan setelahnya. Penceramah tersebut melontarkan candaan mengenai santriwati dengan menyebut keinginannya mencari calon istri keempat.

Pernyataan lain yang menuai kritik berkaitan dengan jamaah perempuan lanjut usia. Dalam video itu, ia terdengar melontarkan ucapan yang dianggap merendahkan perempuan berusia di atas 60 tahun.

“Enggak ada pahalanya ceramah depan emak-emak, ngotor-ngotorin mata. Tapi kalau perawan seger. Maaf-maaf nih, ane begini, aye tukang becanda,” ucapnya dalam rekaman tersebut.

Meski disampaikan dengan dalih bercanda, pernyataan itu memicu reaksi negatif dari warganet. Banyak yang mempertanyakan kepantasan ucapan tersebut disampaikan dalam forum keagamaan.

Berdasarkan identifikasi yang ramai dibahas warganet, sosok dalam video tersebut disebut sebagai Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf.

Cholil Nafis Soroti Etika dalam Berdakwah

Menanggapi polemik tersebut, Cholil Nafis menilai bahwa status sosial maupun latar belakang seorang penceramah tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan isi ceramahnya.

Ia menegaskan bahwa materi dakwah perlu mencerminkan nilai agama dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apapun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam,” tegasnya, seperti dikutip dalam pemberitaan yang merujuk pada laman MUI.

Pernyataan tersebut menempatkan persoalan etika sebagai inti perdebatan. Dalam kegiatan dakwah, kemampuan menyampaikan pesan agama perlu berjalan beriringan dengan sikap menghormati orang lain.

Tiga Hal yang Menjadi Sorotan dalam Polemik Ini

Ucapan tentang perempuan. Candaan mengenai santriwati dan perempuan lanjut usia dinilai tidak pantas oleh banyak warganet.

Etika penceramah. Popularitas dan status seseorang tidak menghilangkan tanggung jawab untuk menjaga tutur kata di hadapan jamaah.

Tanggung jawab jamaah. Masyarakat perlu menilai isi ceramah secara kritis dan mempertimbangkan rekam jejak penceramah sebelum mengundangnya.

Baca Juga: 5 Tuntutan Aksi Demo di Jakarta 20 Oktober, Apa Saja?

Polemik Jadi Pengingat Pentingnya Adab Berdakwah

Ramainya kritik terhadap ceramah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin memperhatikan cara pesan keagamaan disampaikan di ruang publik. Humor dalam ceramah memang dapat digunakan untuk mencairkan suasana, tetapi penggunaannya tetap perlu mempertimbangkan konteks dan dampaknya terhadap orang lain.

Di sisi lain, potongan video yang beredar perlu dipahami secara cermat dengan memperhatikan konteks rekaman dan sumber informasinya. Identitas penceramah serta pernyataan yang dikutip juga perlu merujuk pada sumber yang dapat diverifikasi.

Polemik ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa dakwah bukan hanya soal menyampaikan pesan agama, melainkan juga tentang memberikan teladan melalui perkataan dan perilaku. Sikap santun, penghormatan terhadap martabat manusia, serta tanggung jawab terhadap jamaah tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kegiatan keagamaan.


Berita Terkait


News Update