Dalam keterangannya, ia juga mengucapkan terima kasih kepada para pendaki yang telah membantu ketika balita tersebut menangis.
Klarifikasi ini menjelaskan bahwa anak sebelumnya dititipkan kepada teman yang berada di tenda sebelah. Meski demikian, kejadian tersebut menunjukkan bahwa menitipkan anak tidak cukup jika orang yang bertanggung jawab mengawasi juga tidak dapat memastikan kondisinya.
Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Membawa Balita Mendaki
Peristiwa di Gunung Prau ini dapat menjadi pengingat bagi keluarga yang berencana melakukan pendakian bersama anak kecil. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Pastikan anak selalu dalam pengawasan orang dewasa. Jangan meninggalkan balita sendirian di tenda, termasuk ketika anak sedang tidur.
Tunjuk pendamping yang benar-benar siap. Orang yang bertugas mengawasi anak harus tetap terjaga dan mampu merespons jika terjadi sesuatu.
Pertimbangkan kondisi dan kebutuhan anak. Cuaca, suhu, medan, serta fasilitas di jalur pendakian perlu menjadi pertimbangan sebelum membawa balita.
Siapkan rencana jika terjadi keadaan darurat. Pastikan orang tua mengetahui lokasi petugas dan cara meminta bantuan di kawasan pendakian.
Baca Juga: 4 Tempat Nongkrong Estetik di Jakarta yang Buka hingga Tengah Malam, Cocok buat Hangout
Keselamatan Anak Harus Menjadi Prioritas
Viralnya video balita menangis sendirian di tenda Gunung Prau bukan sekadar persoalan yang ramai dibahas di media sosial. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa keselamatan anak harus tetap menjadi prioritas, bahkan ketika orang tua sedang melakukan aktivitas luar ruang.
Pendakian membutuhkan persiapan fisik, perlengkapan, dan perencanaan yang matang. Ketika membawa balita, tanggung jawab tersebut juga mencakup pengawasan yang tidak boleh terputus.
Orang tua perlu memastikan ada pendamping yang benar-benar mampu menjaga anak setiap saat. Dengan begitu, kegiatan di alam terbuka dapat dilakukan dengan lebih bertanggung jawab tanpa mengabaikan kebutuhan dan keselamatan anak.
