POSKOTA.CO.ID - Video seorang balita yang menangis sendirian di dalam tenda saat orang tuanya mendaki menuju puncak Gunung Prau menjadi sorotan di media sosial. Rekaman tersebut memicu kekhawatiran warganet karena anak kecil itu terlihat tanpa pendampingan orang dewasa ketika berada di kawasan pendakian.
Setelah video tersebut ramai diperbincangkan, ayah balita itu mendatangi basecamp untuk menyampaikan permintaan maaf sekaligus memberikan klarifikasi. Keterangan tersebut dibagikan melalui akun Instagram Ranger Prau, @ranger_prau.
Dalam klarifikasinya, sang ayah mengakui kelalaiannya dalam mengawasi anak. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pendaki lain yang membantu menjaga balita tersebut ketika menangis di dalam tenda.
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya persiapan dan pengawasan orang tua saat membawa anak kecil ke alam terbuka, terutama ketika melakukan aktivitas pendakian yang memiliki risiko tersendiri.
Baca Juga: Persita Kalahkan Persija 3-2, Kericuhan Suporter Bikin Babak Kedua Tertunda 30 Menit
Kronologi Balita Menangis Sendirian di Tenda Gunung Prau
Berdasarkan keterangan yang dibagikan melalui akun Ranger Prau, balita tersebut sebelumnya berada dalam kondisi tidur ketika kedua orang tuanya hendak melakukan summit atau perjalanan menuju puncak Gunung Prau.
Sebelum meninggalkan tenda, orang tua anak itu disebut telah menitipkan balita kepada seorang teman yang mendirikan tenda bersebelahan. Mereka diduga mengira anaknya akan tetap tidur selama ditinggalkan.
Namun, situasi berubah ketika balita tersebut terbangun dan mulai menangis. Teman yang dititipi untuk mengawasi anak itu disebut ikut tertidur sehingga tidak mengetahui kondisi balita tersebut.
Anak itu kemudian mendapat pertolongan dari pendaki lain yang berada di sekitar lokasi. Momen ketika balita menangis di dalam tenda dan mendapat perhatian dari pendaki lain terekam dalam video yang belakangan viral.
Rekaman tersebut lantas memunculkan berbagai tanggapan dari warganet. Perhatian publik terutama tertuju pada keselamatan anak yang berada di lingkungan pendakian tanpa pengawasan langsung orang dewasa.
Ayah Balita Akui Kelalaian dan Sampaikan Permintaan Maaf
Setelah kejadian itu menjadi perbincangan, sang ayah mendatangi basecamp untuk memberikan penjelasan. Ia mengakui bahwa dirinya lalai dalam memastikan anak tetap berada dalam pengawasan yang aman.
