Jika jumlah titik panas kembali melonjak, volume asap dipastikan ikut meningkat dan berpotensi memperburuk kondisi udara di daerah terdampak.
Guna mengantisipasi dampak buruk terhadap kesehatan pernapasan, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dan mulai membatasi aktivitas fisik di luar ruangan.
Apabila terpaksa harus bepergian, BMKG menyarankan penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi seperti N95, KN95, atau KF94 yang jauh lebih efektif menyaring partikel mikroskopis ketimbang masker kain biasa.
Baca Juga: Hujan Tak Mampu Usir Polusi, Jakarta jadi Kota Peringkat Kedua dengan Udara Terburuk di Dunia
Kegiatan olahraga pun sebaiknya dialihkan ke fasilitas indoor sembari rutin memantau pembaruan indeks kualitas udara secara berkala.
“Iya, pakai masker, batasi kegiatan di luar ruangan dulu. Kalau olahraga, nge-gym saja di gym, tidak usah lari atau apa di luar ruangan,” tuturnya.
BMKG mengimbau masyarakat terus memantau perkembangan kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah. Dengan begitu, masyarakat dapat menyesuaikan kegiatan berdasarkan kondisi udara aktual dan mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan PM2.5. (M4)
