Unas Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030

Kamis 15 Okt 2026, 15:34 WIB
Forum ICGI 2026 digelar di Auditorium Cyber Unas, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Oktober 2026. (Sumber: Dok. Istimewa)
Forum ICGI 2026 digelar di Auditorium Cyber Unas, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Oktober 2026. (Sumber: Dok. Istimewa)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Universitas Nasional (Unas) memperkuat kontribusinya dalam diskursus akademik internasional lewat penyelenggaraan The 3rd International Conference on Global Issues (ICGI) 2026 di Auditorium Cyber Unas, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Oktober 2026.

Bertemakan “Beyond 2030: Redefining Global Resilience in the Age of Polycrisis”, konferensi ini diikuti lebih dari 300 peserta secara luring dan daring dari tujuh negara.

Konferensi yang dipimpin Ketua Pelaksana Robi Nurhadi menghadirkan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, serta Staf Ahli Menteri Keuangan RI Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal, Arief Wibisono.

Forum ini menjadi ruang dialog akademik internasional untuk membahas berbagai tantangan global yang saling berkaitan, mulai dari konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi hingga perubahan iklim, ketahanan energi, dan pangan.

Baca Juga: Hore! Biaya Pelunasan Haji 2027 Turun, Ringankan Beban Jemaah

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Unas, Prof. Ernawati Sinaga menegaskan dunia menghadapi berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan dan semakin saling berkaitan. Kondisi tersebut dikenal sebagai polycrisis, yaitu situasi ketika berbagai krisis berinteraksi dan membuat dampak keseluruhannya semakin kompleks serta sulit ditangani.

“Saat ini, dunia tidak hanya menghadapi satu krisis, melainkan berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan dan semakin saling berkaitan,” kata Ernawati dalam keterangannya dikutip Poskota, Kamis, 15 Oktober 2026.

Ia menjelaskan perubahan iklim berdampak terhadap ketahanan pangan, sementara kerawanan pangan dapat memengaruhi kesehatan dan stabilitas sosial. Kerusakan lingkungan juga mengancam keanekaragaman hayati, kesejahteraan manusia, serta pembangunan ekonomi.

Selain itu, perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi baru menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan dalam bidang ketenagakerjaan, pendidikan, etika, privasi, dan kesenjangan sosial. Oleh karena itu, berbagai persoalan tersebut tidak dapat ditangani secara terpisah, melainkan membutuhkan pemahaman yang menyeluruh dan kolaborasi lintas sektor.

Baca Juga: Sambut Mahasiswa Baru lewat PLBA 2026-2027, Unas Bekali Generasi Pionir Perubahan

Ernawati menekankan konsep ketahanan (resilience) perlu dimaknai secara lebih luas. Ketahanan tidak cukup dipahami sebagai kemampuan untuk pulih setelah krisis, tetapi juga mencakup kemampuan untuk mengantisipasi risiko, beradaptasi, melakukan transformasi, dan menjadi lebih kuat dalam menghadapi perubahan.


Berita Terkait


News Update