Pengamat Nilai Program Gempar Tidak Cukup Tekan Kebakaran, Pencegahan Harus Dimulai dari Warga

Rabu 14 Okt 2026, 20:18 WIB
Ilustrasi kebakaran di Jakarta. (Sumber: Poskota/Ali Mansur)
Ilustrasi kebakaran di Jakarta. (Sumber: Poskota/Ali Mansur)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pengamat tata kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna menilai program Gerakan Masyarakat Punya APAR (Gempar) yang digencarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta dinilai perlu dibarengi edukasi dan peningkatan kesadaran warga mengenai potensi penyebab kebakaran.

Yayat mengatakan, langkah pencegahan harus diawali dengan mengenali faktor-faktor yang memicu kebakaran. Menurutnya, cuaca panas saat musim kemarau dapat meningkatkan kewaspadaan, tetapi kondisi instalasi listrik dan penggunaan peralatan elektronik juga perlu menjadi perhatian.

“Yang pertama itu sudah diketahui setiap kemarau panas suhunya sekarang tuh rata-rata 35 sampai 36, itu punya potensi menyebabkan potensi kebakaran tinggi karena suhu udara yang panas,” kata Yayat kepada Poskota, Rabu, 14 Oktober 2026.

Ia menyoroti instalasi listrik yang tidak memenuhi standar, termasuk penumpukan kabel di tiang-tiang listrik. Selain itu, kabel jaringan internet yang semrawut juga perlu diperiksa untuk memastikan pemasangan dan kondisinya tidak menimbulkan risiko keselamatan.

Baca Juga: 36 Orang Tewas dalam Kebakaran di Jakarta Sepanjang 2026

Menurutnya, peningkatan penggunaan peralatan elektronik saat cuaca panas turut menambah beban instalasi listrik di rumah. Penggunaan pendingin ruangan, kipas angin, kulkas, dan perangkat elektronik lainnya secara bersamaan perlu diimbangi dengan instalasi yang aman dan sesuai standar.

“Kalau listrik penyebabnya, maka itulah yang harus dicegah terlebih dahulu,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan risiko instalasi listrik di rumah kosong maupun rumah kontrakan yang kurang mendapat pengawasan. Penggunaan sambungan listrik tanpa pengaman yang memadai, katanya, dapat meningkatkan potensi bahaya, khususnya di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi.

Ia juga menilai pemerintah perlu memetakan kawasan yang memiliki tingkat kepadatan tinggi dan kondisi permukiman yang rentan. Pemetaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan wilayah prioritas sosialisasi, pemeriksaan instalasi listrik, serta penguatan kesiapsiagaan warga menghadapi kebakaran.

Baca Juga: Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatra Belum Padam, 1.085 Hotspot Terdeteksi

“Jangan mengandalkan Damkar, Damkar tugasnya memadamkan. Pencegahan itu dari warga. Ajak warga berpartisipasi, apalagi wilayah-wilayah yang penduduknya sangat padat,” tegas Yayat mengingatkan.

Terkait program GEMPAR, Yayat menilai penyediaan alat pemadam api ringan (APAR) perlu disertai pemahaman warga mengenai lokasi, cara penggunaan, dan kondisi alat tersebut. Tanpa pengetahuan yang memadai, APAR berisiko tidak dapat dimanfaatkan secara optimal ketika kebakaran terjadi dan warga berada dalam situasi panik.

“Percuma. APAR tuh kan enggak tahu di mana dipasangnya. Pakenya, tempatnya enggak tahu. Kalau udah kebakaran, boro-boro mikirin APAR, teriak-teriak doang,” beber Yayat.

Karena itu, Yayat mendorong sosialisasi pencegahan kebakaran dilakukan secara rutin hingga tingkat RT dan RW. Edukasi dapat memanfaatkan berbagai saluran komunikasi, termasuk media sosial, agar informasi mengenai keamanan listrik dan langkah penanganan awal lebih mudah dipahami masyarakat.

Selain itu, Yayat juga menyebut kebakaran tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga dapat menghilangkan harta benda yang dimiliki warga. Dampak tersebut berpotensi membuat keluarga yang terdampak kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan sehingga pencegahan perlu menjadi perhatian bersama.

“Jadi selama musim kemarau ini diharapkan masyarakat sadar untuk mengantisipasi kalau sewaktu-waktu bisa terjadi di mana saja,” tuturnya.


Berita Terkait


News Update