Lebak Catat 4.923 Balita Stunting per September 2026, Pemkab Siapkan Intervensi Berkelanjutan

Rabu 14 Okt 2026, 14:57 WIB
Ilustrasi stunting. (Sumber: Pinterest)
Ilustrasi stunting. (Sumber: Pinterest)

LEBAK, POSKOTA.CO.ID - Penanganan gizi buruk di Kabupaten Lebak masih menjadi tantangan panjang yang membutuhkan pendekatan khusus. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak hingga September 2026 mencatat sebanyak 4.923 balita mengalami stunting. Jumlah ini mencakup 4,91 persen dari total 100.302 balita yang telah diukur di seluruh wilayah tersebut.

Namun, di balik angka tersebut, pemetaan wilayah menunjukkan dinamika yang menarik: daerah dengan jumlah kasus terbanyak ternyata tidak selalu mencatatkan persentase atau tingkat prevalensi tertinggi.

Kecamatan Bayah, misalnya, mengantongi jumlah balita stunting terbanyak di Lebak, yakni mencapai 398 anak atau 11,39 persen.

Sementara itu, Kecamatan Cileles justru menjadi wilayah dengan persentase stunting tertinggi, yaitu mencapai 17,05 persen meskipun jumlah balitanya tercatat 244 anak.

Baca Juga: Angka Stunting di Tangsel Tergolong Tinggi, Begini Penanganannya

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Endang Komarudin, menjelaskan bahwa perbedaan karakteristik ini menjadi alasan mengapa strategi intervensi di setiap wilayah tidak bisa disaratakan. Bayah membutuhkan perhatian ekstra karena akumulasi beban kasusnya yang besar, sedangkan Cileles menjadi prioritas utama akibat tingginya proporsi balita yang terdampak.

"Oleh karena itu, penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah, baik berdasarkan jumlah kasus maupun proporsi balita yang terdampak," ujar Endang saat dikonfirmasi Poskota, Rabu, 14 Oktober 2026.

Menyasar Hulu hingga Hilir

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Lebak menyiapkan rangkaian strategi intervensi berkelanjutan. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya fokus pada balita yang sudah terdampak, tetapi juga menyasar akar masalah sejak usia remaja hingga masa pascapersalinan.

Di tingkat remaja putri, pencegahan diawali dengan pembagian Tablet Tambah Darah (TTD), skrining anemia bagi siswi SMP dan SMA, serta edukasi gizi berbalut kegiatan sekolah melalui program Aksi Bergizi.

Baca Juga: 65 Balita Idap Stunting, Ditemukan di Balaraja Tangerang

Langkah ini berlanjut pada calon pengantin melalui konseling kesehatan untuk memastikan kesiapan tubuh sebelum memasuki masa kehamilan.

Saat kehamilan tiba, pemantauan ketat dilakukan lewat pemeriksaan standar 12T. Begitu bayi lahir, Dinkes Lebak tidak hanya mengukur berat dan panjang badan, tetapi juga menjalankan serangkaian skrining medis mulai dari deteksi Penyakit Jantung Bawaan Kritis (PJBK), Hipotiroid Kongenital (SHK), hingga penyakit kuning.

Bagi balita yang terindikasi mengalami masalah gizi, penanganan spesifik langsung diberikan. Balita stunting yang telah diperiksa dokter spesialis anak mendapatkan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) berupa susu tinggi kalori.

"Salah satu intervensi yang dilakukan adalah pemberian pangan olahan untuk keperluan medis khusus (PKMK) berupa susu tinggi kalori bagi balita stunting yang telah menjalani pemeriksaan dokter spesialis anak," kata Endang.

Baca Juga: 'Orang Tua Angkat' Jadi Langkah Pemkab Bogor Tangani Stunting

Sementara untuk anak dengan gizi kurang serta ibu hamil berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK), pemerintah menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis bahan pangan lokal.

Upaya ini terus dikawal melalui pemantauan tumbuh kembang rutin di Posyandu, kelengkapan imunisasi dasar, penyuluhan ASI eksklusif, hingga layanan KB pascapersalinan.

Meski skema intervensi telah dirancang sedemikian rupa, data saat ini diakui belum merekam secara rinci faktor utama yang memicu tingginya kasus di Cileles maupun Bayah. Evaluasi berkala masih terus diperlukan untuk mengukur efektivitas jangkauan program di lapangan.

Endang menegaskan, kunci keberhasilan pengentasan stunting sejatinya terletak pada kolaborasi yang tidak hanya mengandalkan sektor kesehatan semata.

"Penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pemberian makanan tambahan dan pelayanan kesehatan. Keberhasilannya sangat bergantung pada kesinambungan pemantauan tumbuh kembang anak, kecukupan gizi keluarga, kesehatan ibu, sanitasi lingkungan seperti akses jamban sehat, serta koordinasi lintas sektor," pungkasnya.


Berita Terkait


News Update