Saat kehamilan tiba, pemantauan ketat dilakukan lewat pemeriksaan standar 12T. Begitu bayi lahir, Dinkes Lebak tidak hanya mengukur berat dan panjang badan, tetapi juga menjalankan serangkaian skrining medis mulai dari deteksi Penyakit Jantung Bawaan Kritis (PJBK), Hipotiroid Kongenital (SHK), hingga penyakit kuning.
Bagi balita yang terindikasi mengalami masalah gizi, penanganan spesifik langsung diberikan. Balita stunting yang telah diperiksa dokter spesialis anak mendapatkan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) berupa susu tinggi kalori.
"Salah satu intervensi yang dilakukan adalah pemberian pangan olahan untuk keperluan medis khusus (PKMK) berupa susu tinggi kalori bagi balita stunting yang telah menjalani pemeriksaan dokter spesialis anak," kata Endang.
Baca Juga: 'Orang Tua Angkat' Jadi Langkah Pemkab Bogor Tangani Stunting
Sementara untuk anak dengan gizi kurang serta ibu hamil berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK), pemerintah menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis bahan pangan lokal.
Upaya ini terus dikawal melalui pemantauan tumbuh kembang rutin di Posyandu, kelengkapan imunisasi dasar, penyuluhan ASI eksklusif, hingga layanan KB pascapersalinan.
Meski skema intervensi telah dirancang sedemikian rupa, data saat ini diakui belum merekam secara rinci faktor utama yang memicu tingginya kasus di Cileles maupun Bayah. Evaluasi berkala masih terus diperlukan untuk mengukur efektivitas jangkauan program di lapangan.
Endang menegaskan, kunci keberhasilan pengentasan stunting sejatinya terletak pada kolaborasi yang tidak hanya mengandalkan sektor kesehatan semata.
"Penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pemberian makanan tambahan dan pelayanan kesehatan. Keberhasilannya sangat bergantung pada kesinambungan pemantauan tumbuh kembang anak, kecukupan gizi keluarga, kesehatan ibu, sanitasi lingkungan seperti akses jamban sehat, serta koordinasi lintas sektor," pungkasnya.
